BAHAGIA MENYAMBUT RAMADHAN

0
90

Menikmati Bulan Mulia Bersama Keluarga

Cahyadi Takariawan

Ramadhan adalah bulan mulia yang dinantikan kehadirannya oleh ummat muslim di seluruh dunia. Selama ini negara mayoritas muslim seperti Indonesia, menempatkan Ramadhan sebagai momentum istimewa yang disambut dengan berbagai macam agenda yang meriah. Di kampung-kampung, di masjid dan mushalla, di berbagai instansi, seakan berlomba untuk menyambut Ramadhan dengan berbagai cara. Semua menunjukkan betapa istimewa bulan Ramadhan bagi kehidupan bangsa Indonesia.

Demikian pula dalam kehidupan keluarga. Sangat banyak keluarga muslim yang melakukan persiapan menjelang Ramadhan dengan berbagai aktivitas bersama masyarakat. Sejak yang bercorak tradisional dan kultural, seperti upacara padusan maupun ziyarah kubur; sampai kepada yang bercorak ilmiah dan akademik seperti Seminar Menjelang Ramadhan dan Tarhib Ramadhan. Sebagian yang lain menyambut Ramadhan dengan membersihkan rumah dan menata ulang bagian rumah sembari memberikan hiasan atau asesoris yang ceria, terutama dalam keluarga yang memiliki anak-anak masih kecil. Tujuannya agar anak-anak semua bergembira menyambut Ramadhan.

Itu semua semakin menguatkan betapa istimewa nilai Ramadhan bagi masyarakat Indonesia. Untuk itu, hendaknya bulan Ramadhan dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi upaya perbaikan diri, keluarga, masyarakat, serta seluruh bangsa Indonesia. Dalam kaitan dengan perbaikan diri dan keluarga, setidaknya ada lima momentum yang disediakan Ramadhan untuk dimanfaatkan secara optimal.

Pertama, Momentum Spritual

Bulan Ramadhan benar-benar penuh dengan momentum yang sangat spiritual atau ruhaniyah. Melaksanakan seluruh kegiatan ibadah di dalamnya, adalah sarana sangat istimewa untuk meningkatkan ketaqwaan, menambah kedekatan dengan Allah, membuat suasana jiwa yang penuh dengan ketundukan dan ketulusan. Inilah momentum yang sangat besar manfaatnya untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi seluruh anggota keluarga.

Melaksanakan sahur adalah ibadah, dan bentuk ketaatan kepada Allah, bentuk kecintaan kepada sunnah Nabi Saw. Berpuasa adalah ibadah, dan bentuk ketaatan kepada Allah. Berbuka puasa adalah ibadah, dan bentuk ketaatan kepada Allah, bentuk kecintaan kepada sunnah Nabi Saw. Membaca, menghafalkan dan mempelajari Al Qur’an adalah ibadah, dan bentuk ketaatan kepada Allah, bentuk kecintaan kepada sunnah Nabi Saw. Shalat tarawih adalah ibadah, dan bentuk ketaatan kepada Allah, bentuk kecintaan kepada sunnah Nabi Saw. Melaksanakan i’tikaf, berinfak, membayar zakat fitrah, melakukan takbir, hingga melaksanakan shalat Iedul Fithri, adalah ibadah dan bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul.

Seluruh ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadhan memiliki nilai pahala yang berlipat ganda, serta menjadi sarana peningkatan kualitas iman dan taqwa bagi semua anggota keluarga. Ini yang akan menjadi pondasi untuk membangun kebahagiaan yang hakiki bersama seluruh anggota keluarga. Dalam bahasa psikologi, keimanan dan ketaqwaan semua anggota keluarga adalah faktor pembentuk resiliensi keluarga yang paling utama. Dengan iman dan taqwa yang semakin meningkat, maka daya lenting atau resiliensi keluarga juga meningkat.

Kedua, Momentum Intelektual

Momentum intelektual juga menjadi salah satu warna dan ciri khas selama Ramadhan. Di berbagai masjid, mushalla dan komunitas, sangat banyak tawaran kajian aneka tema. Bahkan hampir setiap masjid menyajikan Kuliah Subuh, Ceramah Tarawih, Tausiyah Takjil, Pengajian Buka Puasa Bersama, dan lain sebagainya. Di beberapa pusat kegiatan Islam, digelar Pesantren Ramadhan, yang mengkaji berbagai keilmuan mendasar. Itu semua menjadi momentum —bukan hanya untuk ‘siraman ruhani’— namun juga untuk menambah wawasan serta bekal intelektual.

Ada berbagai wacana keislaman yang didialogkan, ada kitab-kitab rujukan yang dikaji dengan mendalam, ada berbagai pelatihan praktis yang disajikan, itu semua menjadi momentum peningkatan intelektualitas. Di sisi lain, Ramadhan juga menjadikan peningkatan semangat thalabul ilmi pada kebanyakan masyarakat muslim. Mereka menjadi lebih rajin membaca, mengaji, belajar dan menyimak majelis ilmu yang sangat banyak digelar sepanjang Ramadhan. Fenomena yang tidak dijumpai di luar bulan Ramadhan.

Dalam kehidupan keluarga harus ditradisikan untuk selalu belajar dan menambah ilmu pengetahuan. Belajar adalah perintah agama yang tidak berbatas masa. Sepanjang rentang kehidupan manusia, harus terus menerus melakukan pembelajaran. Keluarga yang cerdas, keluarga yang berwawasan luas, akan menjadi keluarga yang lebih memiliki daya tahan dalam menghadapi setiap persoalan. Tidak mudah terusik dan terguncang oleh badai yang pasti datang. Keluarga akan tetap kokoh karena berbekal pemahaman serta ilmu pengetahuan yang bermanfaat.

Ketiga, Momentum Kebersamaan

Hal yang sangat berkesan dalam kehidupan keluarga selama Ramadhan adalah kebersamaan yang sangat kuat. Dalam suasana spiritual yang tinggi, hendaknya keluarga membiasakan diri dengan kebersamaan di antara semua anggotanya. Rencanakan berbagai kegiatan yang bisa meningkatkan serta menguatkan rasa kebersamaan, seperti berbuka puasa bersama seluruh anggota keluarga, menyiapkan makan sahur hingga melaksanakan sahur bersama, shalat tarawih bersama, tadarus Al Qur’an bersama, menghadiri majelis ilmu bersama, dan lain sebagainya.

Jadikan Ramadhan sebagai momentum yang menguatkan dan menyegarkan kebersamaan di antara suami, istri serta anak-anak. Kesibukan kerja, kuliah, sekolah, organisasi, bisnis dan lain-lain di luar bulan Ramadhan, kadang membuat ikatan kebersamaan menjadi memudar. Maka saat memasuki bulan Ramadhan, hendaknya dioptimalkan untuk kembali memperkokoh kebersamaan dengan semua anggota keluarga.

Di Indonesia, sangat banyak tempat yang menyajikan dan menyelenggarakan buka puasa (ifthar) bersama masyarakat. Setiap hari, jika mau, semua warga bisa mengikuti kegiatan buka puasa di masjid atau di pusat komunitas. Namun jangan sampai semua waktu habis untuk buka puasa bersama masyarakat, namun tidak memiliki waktu untuk buka bersama keluarga. Demikian pula, walaupun di setiap masjid menggelar Tarawih bersama warga, namun sempatkan waktu untuk melaksanakan shalat Tarawih di rumah bersama seluruh anggota keluarga.

Kebersamaan yang dibangun selama bulan Ramadhan akan memberikan dampak positif bagi keluarga pada bulan-bulan lainnya, karena kebersamaan yang mereka bangun berada dalam bingkai ibadah dan ketaatan kepada Allah. Sangat berbeda dengan keluarga yang melakukan aktivitas bersama, namun dalam hal yang bernilai maksiat serta mungkar. Kebersamaan dalam hal dosa dan kemaksiatan justru akan melemahkan bahkan menghancurkan kebahagiaan keluarga.

Keempat, Momentum Regulasi Emosi

Hal yang sangat kuat dibentuk dengan berpuasa Ramadhan adalah regulasi emosi. Kita berlatih kesabaran, berlatih disiplin, berlatih menahan diri, selama sebulan. Misalnya, sepanjang waktu berpuasa kita dilatih untuk tidak marah dan tidak emosional, tidak berkata-kata kotor, tidak melakukan perbuatan dosa dan tercela. Hal ini menjadikan kita memiliki kemampuan regulasi emosi yang stabil. Terbiasa mengendalikan diri, mengendalikan lisan, mengendalikan emosi, mengendalikan keinginan. Sungguh sebuah pelatihan yang sangat efektif untuk proses regulasi emosi.

Dalam kehidupan sehari-hari, sangat banyak masalah yang muncul dari ketidakmampuan melakukan regulasi emosi. Suami mudah marah kepada istri, sebagaimana istri mudah emosi kepada suami; orang tua mudah marah kepada anak, sebagaimana anak mudah emosi terhadap orang tua. Ledakan emosi dan kemarahan dalam kehidupan keseharian, kerap menjadi pemicu keretakan hubungan.

Suami sakit hati karena sering dimarahi istri,  sebagaimana istri sakit hati karena sering dimarahi suami. Anak-anak memiliki luka batin yang mendalam jika sering dimarahi orang tua. Kondisi ini membuat hubungan dalam keluarga menjadi renggang dan semakin menjauh.

Ramadhan melatih kita semua untuk disiplin dan mengendalikan keinginan. Sahur adalah bentuk pengendalian diri, puasa adalah bentuk pengendalian diri. Kita disuruh makan pada jam yang kita tidak ingin dan tidak enak untuk makan. Kita dilarang makan pada waktu-waktu yang kita sangat ingin untuk makan. Kita menahan diri dari berbagai keinginan syahwat selama berpuasa, hingga menunggu waktu Maghrib tiba. Selapar apapun, sehaus apapun, sementara ada banyak makanan lezat dan minuman segar di hadapan, kita tidak boleh untuk menikmatinya.

Kelima, Momentum Sosial

Sisi sosial juga sangat terasa selama bulan Ramadhan. Masyarakat muslim Indonesia sangat dermawan setiap Ramadhan. Banyak yang secara sukarela menyediakan sajian buka puasa gratis, banyak infak dan sedekah, banyak menyantuni fakir dan yatim, sungguh pemandangan yang selalu tampak pada setiap Ramadhan. Ada suasana kebersamaan sosial yang meningkat karena berharap keberkahan melimpah dari amal salih selama Ramadhan.

Hendaknya momentum sosial ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh keluarga muslim untuk membangun dan menguatkan kepekaan sosial, kepedulian sosial serta partisipasi sosial seluruh anggota keluarga. Semua anggota keluarga dibiasakan untuk terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan selama Ramadhan. Menjadi panitia kegiatan Ramadhan di mushalla, di masjid, di kampung atau di komunitas, adalah salah satu sarananya. Menjadi relawan sosial yang memberikan kontribusi kebaikan bagi masyarakat luas, akan semakin mengasah jiwa sosial yang sangat bermanfaat untuk kebaikan pribadi maupun keluarga.

Demikianlah lima momentum yang sangat kuat terasakan sepanjang bulan Ramadhan. Hendaknya semua keluarga muslim memanfaatkan semua momentum kebaikan Ramadhan untuk menguatkan keharmonisan dan kebahagiaan dalam keluarga. Jika kelima momentum berhasil dimanfaatkan secara optimal, akan bisa membuat kehidupan suami, istri serta anak-anak berada dalam kebaikan dan keharmonisan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here