Website SAF jogja

Matematika Tanpa Bingung: Guru SDIT Salman Al Farisi Perdalami Strategi Pembelajaran Pecahan di BBGTK DIY

Yogyakarta, Februari 2026 – Matematika seringkali dianggap sebagai “momok” bagi sebagian siswa, terutama saat memasuki materi pecahan. Memahami tantangan tersebut, seluruh guru Matematika dari SDIT Salman Al Farisi 1 dan 2 melakukan langkah proaktif dengan menggelar agenda Komunitas Belajar (Kombel) pada tanggal 11 dan 20 Februari 2026. Bertempat di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) DIY, para pendidik ini berkumpul bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban, melainkan untuk merumuskan cara agar matematika—khususnya pecahan—menjadi materi yang dinantikan oleh siswa.

Belajar Langsung dari Sang Pakar

Suasana Kombel kali ini berlangsung seru dan jauh dari kesan kaku. Hal ini tidak lepas dari kehadiran narasumber ahli, Bapak Wiworo, S.Si., M.M., seorang Widyaiswara dari BBGTK DIY yang dikenal sangat piawai dalam membedah metode pembelajaran matematika. Bapak Wiworo mengajak para guru untuk mengubah paradigma lama. Matematika tidak boleh hanya sekadar deretan angka di papan tulis, tetapi harus menjadi pengalaman belajar yang nyata bagi anak-anak.

Mengupas Pecahan secara Kontekstual

Materi inti dalam pertemuan dua hari ini adalah Strategi Penyampaian Materi Pecahan. Guru-guru diajak menyelami dua pendekatan utama:

  1. Pendekatan Efektif: Bagaimana menyederhanakan konsep pecahan yang abstrak menjadi sesuatu yang logis dan mudah ditangkap oleh logika dasar anak SD.

  2. Pendekatan Kontekstual: Mengaitkan pecahan dengan situasi sehari-hari. Mulai dari membagi pizza, memotong kue, hingga pembagian porsi makanan, sehingga siswa menyadari bahwa “matematika itu ada di sekitar kita”.

Sinergi untuk Kualitas Pendidikan

Pertemuan ini menjadi momen penting bagi guru SDIT SAF 1 dan 2 untuk saling bertukar pikiran dan berbagi kendala yang dihadapi di kelas masing-masing. Dengan adanya sinergi ini, standar kualitas pengajaran matematika di seluruh unit Salman Al Farisi diharapkan semakin meningkat dan seragam.

“Kami ingin siswa tidak lagi merasa terbebani dengan rumus, tapi mereka paham maknanya. Lewat pendekatan kontekstual ini, insyaallah anak-anak akan lebih enjoy belajar matematika,” ujar salah satu peserta guru.

Kombel ini diakhiri dengan semangat baru para guru untuk segera mempraktikkan “ilmu BBGTK” ini ke dalam kelas masing-masing. Karena guru yang terus belajar adalah kunci lahirnya siswa yang mencintai ilmu

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *