Website SAF jogja

SDIT 1

Matematika Tanpa Bingung: Guru SDIT Salman Al Farisi Perdalami Strategi Pembelajaran Pecahan di BBGTK DIY

Yogyakarta, Februari 2026 – Matematika seringkali dianggap sebagai “momok” bagi sebagian siswa, terutama saat memasuki materi pecahan. Memahami tantangan tersebut, seluruh guru Matematika dari SDIT Salman Al Farisi 1 dan 2 melakukan langkah proaktif dengan menggelar agenda Komunitas Belajar (Kombel) pada tanggal 11 dan 20 Februari 2026. Bertempat di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) DIY, para pendidik ini berkumpul bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban, melainkan untuk merumuskan cara agar matematika—khususnya pecahan—menjadi materi yang dinantikan oleh siswa. Belajar Langsung dari Sang Pakar Suasana Kombel kali ini berlangsung seru dan jauh dari kesan kaku. Hal ini tidak lepas dari kehadiran narasumber ahli, Bapak Wiworo, S.Si., M.M., seorang Widyaiswara dari BBGTK DIY yang dikenal sangat piawai dalam membedah metode pembelajaran matematika. Bapak Wiworo mengajak para guru untuk mengubah paradigma lama. Matematika tidak boleh hanya sekadar deretan angka di papan tulis, tetapi harus menjadi pengalaman belajar yang nyata bagi anak-anak. Mengupas Pecahan secara Kontekstual Materi inti dalam pertemuan dua hari ini adalah Strategi Penyampaian Materi Pecahan. Guru-guru diajak menyelami dua pendekatan utama: Pendekatan Efektif: Bagaimana menyederhanakan konsep pecahan yang abstrak menjadi sesuatu yang logis dan mudah ditangkap oleh logika dasar anak SD. Pendekatan Kontekstual: Mengaitkan pecahan dengan situasi sehari-hari. Mulai dari membagi pizza, memotong kue, hingga pembagian porsi makanan, sehingga siswa menyadari bahwa “matematika itu ada di sekitar kita”. Sinergi untuk Kualitas Pendidikan Pertemuan ini menjadi momen penting bagi guru SDIT SAF 1 dan 2 untuk saling bertukar pikiran dan berbagi kendala yang dihadapi di kelas masing-masing. Dengan adanya sinergi ini, standar kualitas pengajaran matematika di seluruh unit Salman Al Farisi diharapkan semakin meningkat dan seragam. “Kami ingin siswa tidak lagi merasa terbebani dengan rumus, tapi mereka paham maknanya. Lewat pendekatan kontekstual ini, insyaallah anak-anak akan lebih enjoy belajar matematika,” ujar salah satu peserta guru. Kombel ini diakhiri dengan semangat baru para guru untuk segera mempraktikkan “ilmu BBGTK” ini ke dalam kelas masing-masing. Karena guru yang terus belajar adalah kunci lahirnya siswa yang mencintai ilmu  

Matematika Tanpa Bingung: Guru SDIT Salman Al Farisi Perdalami Strategi Pembelajaran Pecahan di BBGTK DIY Read More »

Syukuran dan Dedikasi: Salman Al Farisi Rayakan Hari Guru Sebagai Hari Apresiasi dan Peningkatan Teladan

Yogyakarta, 25 November 2025 – Tepat pada Hari Guru Nasional, seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Salman Al Farisi merayakan hari istimewa ini dengan rangkaian acara yang berbeda, namun dengan satu semangat yang sama: menghormati dedikasi para Murabbi dan memperkuat komitmen menjadi teladan. Dari jenjang paling dasar hingga menengah, perayaan ini menjadi momen apresiasi dan recharge ruhiyah bagi seluruh guru dan karyawan. Canda Tawa dan Kartu Tulus di Jenjang TK Perayaan di jenjang Taman Kanak-kanak berlangsung penuh kehangatan dan keakraban bersama anak-anak: TB-KB-TKIT Salman Al Farisi 1: Keceriaan dimulai dengan potong kue dan makan bersama guru dan siswa. Anak-anak disuguhi video kartun seputar guru yang menghibur. Momen apresiasi diberikan dalam bentuk sederhana namun manis: guru mendapatkan buket cokelat dan kaos kaki, simbol kenyamanan dan kehangatan. KB-TKIT Salman Al Farisi 2: Anak-anak disuguhkan sesi edukatif melalui dialog bersama Bu Yani & Boneka Tsabita, yang menyampaikan pesan tentang peran guru. Suasana haru tercipta saat Bu Tien mendedikasikan puisi untuk rekan-rekan guru. Ekspresi cinta paling tulus datang dari anak-anak yang menempel kartu ucapan di pagar sebagai ucapan Selamat Hari Guru. Inspirasi dan Apresiasi Masa Kerja di Jenjang SD Jenjang Sekolah Dasar memadukan penampilan siswa dan penguatan spiritual bagi guru: SDIT Salman Al Farisi 1: Apresiasi datang langsung dari siswa. Kelas 1 dan 4 mempersembahkan gerak lagu sebagai ucapan terima kasih. Siangnya, guru mengikuti agenda khusus Pengajian bersama Ustad Syafi’i Masykur, S. Ag, M. Hum, yang fokus pada tema guru menjadi teladan dalam amal dan akhlak. Acara ditutup dengan pemberian apresiasi hadiah untuk para guru. SDIT Salman Al Farisi 2: Siswa berkreasi dengan menonton video hari guru, menggambar, dan menulis ucapan tulus. Interaksi langsung terjalin melalui games bersama guru (pesan berantai, kata bersambung, tebak nama kota, tebak gambar, dan tebak nama siswa) yang mengundang gelak tawa. Momen spesial dilakukan saat syukuran potong tumpeng dan apresiasi gukar yang masa kerjanya lebih dari 10 tahun, menghargai loyalitas dan pengabdian yang panjang. Kreativitas Penuh Semangat di Jenjang SMPIT Siswa SMPIT Salman Al Farisi menunjukkan rasa hormat dan terima kasih melalui kreativitas seni dan pertunjukan yang solid: Kelas 7A tampil energik dengan Drama dan bernyanyi (Laskar Pelangi). Kelas 7B menyentuh hati dengan membaca puisi dan menyanyi. Kelas 8A menyanyikan lagu dedikasi Doaku untukmu Guru (JSIT), dan Kelas 8B membawakan lantunan Nasyid Guruku (Gontor). Kelas 9A mempersembahkan video drama yang penuh makna, sementara Kelas 9B menutup dengan pertunjukan Flashmob yang ceria dan kompak. Acara di SMPIT ditutup dengan pemutaran video kenang-kenangan Hari Guru dari OSIS, meninggalkan kesan haru dan bangga di hati para guru. Yayasan Salman Al Farisi juga memberikan apresiasi kepada setiap guru dan karyawan di lembaga dengan memberikan bingkisan sajadah ukir nama sebagai bentuk penghargaan terhadap dedikasi penuh yang diberikan oleh mereka di masing-masing perannya. Sajadah juga menjadi simbol bahwa besar harapan Yayasan Salman Al Farisi agar para guru karyawan senantiasa menyertakan Salman Al Farisi dalam doa-doa di sujud mereka; mendoakan kemajuan dan keberkahan setiap langkah di seluruh elemen Yayasan Salman Al Farisi Perayaan Hari Guru di berbagai lembaga Salman Al Farisi ini menegaskan kembali komitmen yayasan: bahwa guru adalah aset terpenting yang harus diapresiasi, dan teladan akhlak serta amal adalah fondasi utama dalam mencetak generasi Qurani Berprestasi.

Syukuran dan Dedikasi: Salman Al Farisi Rayakan Hari Guru Sebagai Hari Apresiasi dan Peningkatan Teladan Read More »

Gerak Bersama, Tumbuh Bahagia: Outbound SDIT Salman Al Farisi Melatih Kekompakan Tim dan Motorik Siswa

Sleman, 19 November 2025 – Suasana riuh rendah keceriaan dan semangat kebersamaan menyelimuti Karangasri Outbound. Seluruh siswa/i SDIT Salman Al Farisi dari kelas 1 hingga 6 hari itu meninggalkan bangku sekolah untuk menjalani Outbound Akbar dengan tema yang inspiratif: “Gerak Bersama, Tumbuh Bahagia.” Agenda ini dirancang untuk melatih kemampuan motorik kasar siswa, mengasah kerjasama dan kekompakan tim, serta mengajak anak-anak untuk lebih dekat dengan alam, menjadikan proses belajar sebagai petualangan yang seru dan bermakna. Perjalanan Awal dan Ice Breaking Pembuka Semangat Pagi hari, seluruh peserta outbound berkumpul dan berangkat bersama dari sekolah dengan menaiki bis. Perjalanan menuju Karangasri Outbound dipenuhi lagu-lagu penyemangat dan canda tawa, membangun antusiasme sejak dini. Sesampainya di lokasi, kegiatan diawali dengan sesi Ice Breaking yang dipandu oleh instruktur. Permainan ringan yang penuh energi ini sukses memecah kebekuan dan menyatukan semangat seluruh peserta, mempersiapkan mereka menghadapi tantangan di pos-pos berikutnya. Uji Kekompakan Tim di Setiap Pos Tantangan Inti dari kegiatan outbound adalah rangkaian permainan di pos-pos berbeda yang harus diselesaikan secara bergantian. Hampir semua permainan ini melibatkan kerja tim yang solid, menguji kemampuan komunikasi dan kerjasama siswa: Voli Bola Jumbo & Estafet Bola dengan Pipa: Permainan ini melatih koordinasi dan strategi kelompok dalam memindahkan objek besar atau kecil tanpa bantuan tangan langsung. Memindahkan Balok dengan Tali & Estafet Alas: Menuntut kesabaran, kepemimpinan, dan kepercayaan antar anggota tim untuk menyelesaikan misi yang membutuhkan sinkronisasi gerakan. Mengangkat Pingpong dengan Sumpit & Memindahkan Bola dengan Mata Tertutup: Melatih ketelitian, fokus, serta komunikasi verbal yang efektif dalam kondisi keterbatasan sensorik. Selain permainan kelompok, kemampuan fisik dan motorik individu juga diuji dalam zona Ketangkasan, di mana anak-anak harus melewati berbagai rintangan seperti melompat sesuai pola, merangkak melewati ring, dan loncat melewati ring. Puncak Keseruan: Air, Alam, dan Flying Fox Kegiatan semakin meriah dengan Aneka Permainan Air, di mana anak-anak bebas bermain dan berinteraksi dalam suasana yang santai dan menyegarkan. Momen ini menjadi pelepas ketegangan setelah sesi tantangan yang intens. Sebagai penutup yang paling memacu adrenalin, anak-anak berkesempatan mencoba Flying Fox. Tantangan meluncur dari ketinggian ini melatih keberanian dan menumbuhkan rasa percaya diri, sebuah pelajaran penting yang mereka bawa pulang dari alam terbuka. Outbound di Karangasri ini sukses menyajikan pembelajaran yang jauh dari kata membosankan. Seluruh siswa/i SDIT Salman Al Farisi kembali ke sekolah dengan jiwa yang lebih segar, motorik yang lebih terasah, dan pemahaman yang mendalam bahwa kebahagiaan terbesar tercipta dari kebersamaan dan kekompakan tim.

Gerak Bersama, Tumbuh Bahagia: Outbound SDIT Salman Al Farisi Melatih Kekompakan Tim dan Motorik Siswa Read More »

Belajar Jadi Pedagang Ulung: Market Day, Cara Salman Al Farisi Tanamkan Jiwa Kewirausahaan Sejak Dini

Yogyakarta, 1 Oktober 2025 – Selama tiga hari berturut-turut, mulai dari 29 September hingga 1 Oktober 2025, suasana di Kelas B Labu SDIT Salman Al Farisi disulap menjadi pasar modern yang ramai dan meriah. Seluruh siswa kelas 1 hingga 6 berpartisipasi penuh dalam agenda Market Day, sebuah praktik langsung yang bertujuan menanamkan jiwa kewirausahaan sejak dini, sekaligus meneladani profesi mulia Rasulullah SAW sebagai seorang pedagang. Market Day kali ini dibagi menjadi tiga sesi, memberikan kesempatan bagi setiap jenjang kelas untuk menjadi penjual dan pembeli: kelas 5 dan 6 di hari pertama, disusul kelas 3 dan 4, dan ditutup oleh kelas 1 dan 2. Pembagian sesi ini memastikan setiap siswa mendapatkan pengalaman belajar yang maksimal. Panggung Keberanian dan Negosiasi Cilik Market Day berlangsung sangat seru dan antusiasme terlihat jelas, tidak hanya dari siswa yang bertugas, tetapi juga dari para orang tua yang turut hadir meramaikan. Berbagai jenis barang unik dijual, menunjukkan kreativitas siswa dalam memilih dagangan. Mulai dari makanan berat seperti kimbab, aneka snack kecil seperti dimsum, bakso, pentol, dan donat, minuman segar, hingga pernak-pernik seperti bros, stiker, dan gelang. Bahkan, ada pula stan yang menjual permainan seperti tembak-tembakan dan blind box. Siswa yang tidak bertugas hari itu diwajibkan untuk menjadi pembeli, dengan batas maksimal pembelian Rp 20 ribu per orang. Batasan ini dirancang sebagai pelajaran dasar ekonomi, mengajarkan mereka tentang prioritas belanja dan pengelolaan keuangan sederhana. Di setiap stan, terdengar riuh suara tawar-menawar yang lucu. Anak-anak yang semula pemalu, kini harus berani menyapa, menawarkan dagangan, dan melakukan negosiasi harga. Momen ini menjadi praktik nyata dalam melatih komunikasi, negosiasi, dan kerja sama tim mereka. Lebih dari Transaksi: Melatih Keterampilan Hidup Tujuan utama Market Day jauh melampaui urusan untung rugi. Kegiatan ini adalah sarana untuk melatih keterampilan dasar yang berharga bagi kehidupan masa depan mereka, seperti pengelolaan keuangan, keberanian, dan menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap konsep dasar ekonomi. Market Day sekali lagi membuktikan bahwa pendidikan holistik di SDIT Salman Al Farisi adalah perpaduan antara ilmu akademik dan pengalaman hidup. Melalui praktik langsung jual beli, anak-anak tidak hanya belajar konsep wirausaha, tetapi juga meneladani akhlak mulia seorang pedagang yang jujur, sebagai bekal untuk menjadi generasi Qurani Berprestasi di masa depan.

Belajar Jadi Pedagang Ulung: Market Day, Cara Salman Al Farisi Tanamkan Jiwa Kewirausahaan Sejak Dini Read More »

Belajar Hidup Mandiri di Alam Terbuka: Penggalang SDIT Salman Al Farisi Sukses Gelar Perjusa 2025

Yogyakarta – Gelak tawa riang dan sorak-sorai semangat pramuka menyelimuti suasana Jogja Expotarium. Pada tanggal 19 hingga 20 September 2025 lalu, selama dua hari satu malam, puluhan anggota Penggalang SDPIT Salman Al Farisi mengikuti agenda Perjusa (Perkemahan Jumat-Sabtu) yang merupakan agenda rutin tahunan sekolah yang bertujuan untuk menumbuhkan keimanan melalui agenda alam sekaligus melatih kemandirian, kekompakan, dan jiwa kepemimpinan siswa/i di alam terbuka. Dari Mendirikan Tenda Hingga Pentas Seni Api Unggun Perjalanan dimulai pada Jumat pagi dengan apel pembukaan yang khidmat, dipimpin oleh Kak Luky (read: Bu Luky) selaku kepala sekolah SDIT Salman Al Farisi. Setelah apel, para siswa segera diarahkan untuk mendirikan tenda per regu, belajar bekerja sama dan membagi tugas dengan efisien. Momen ini menjadi pelajaran pertama tentang tanggung jawab dan kerja tim, sebab ketua regu perlu cermat melakukan pembagian tugas untuk anggotanya untuk mendirikan tenda, mengecek barang bawaan, serta memasak untuk makan siang dan makan malam. Lepas Ishoma (Istirahat, Sholat, Makan), semangat mereka kembali membara untuk mengikuti berbagai materi yang menantang. Mereka dilatih PBB (Peraturan Baris-Berbaris) oleh kakak dari POLDA dan belajar komunikasi rahasia melalui materi semaphore oleh Kak Nawang. Saat sore hari, mereka diajak mengasah kreativitas dan keterampilan teknis dalam pionering, berlatih membuat konstruksi dari tali dan tongkat bersama Kak Teguh dan Kak Andri . Malam harinya, suasana berubah menjadi hangat dan meriah. Setelah makan malam, seluruh peserta berkumpul untuk melaksanakan upacara api unggun yang dipimpin kembali oleh Kak Luky. Suasana semakin semarak dengan penampilan pentas seni dari setiap regu, mulai dari menari, menyanyi, hingga drama dan pantomim. Puncak dari malam itu adalah agenda giat malam, di mana mereka berpetualang di sekitar area, memecahkan sandi, dan menjawab pertanyaan di setiap pos yang telah disiapkan. Kegiatan ini menguji keberanian, kekompakan, dan pemahaman mereka tentang dasa dharma dan rukun islam. Mengukir Kenangan dan Pengetahuan Baru Pada hari kedua, sebelum fajar menyingsing, mereka bangun untuk melaksanakan qiyamullail dan salat subuh berjamaah. Setelah sarapan pagi bersama, para penggalang dengan sigap merobohkan tenda dan merapikan barang bawaan, menunjukkan kemandirian dan tanggung jawab yang telah mereka pelajari. Agenda Perjusa ditutup dengan acara kunjungan edukatif ke seluruh area Jogja Exotarium. Didampingi oleh guide, mereka menjelajahi kebun binatang, belajar tentang berbagai jenis hewan dan ekosistemnya. Ini adalah cara yang sempurna untuk mengakhiri perkemahan, menggabungkan pendidikan spiritual dan karakter dengan ilmu pengetahuan alam. Perjusa 2025 bukan hanya sekadar acara kemah, tetapi sebuah pengalaman berharga yang menanamkan nilai-nilai luhur kepramukaan. Para siswa pulang dengan cerita dan kenangan baru, siap untuk mengaplikasikan ilmu dan kemandirian yang mereka dapatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Belajar Hidup Mandiri di Alam Terbuka: Penggalang SDIT Salman Al Farisi Sukses Gelar Perjusa 2025 Read More »

Membangun Pondasi Akhlak: Sekolah Orang Tua Salman Ajak Wali Murid Satukan Visi Pendidikan

Yogyakarta, 15 September 2025 – SDIT Salman Al Farisi kembali menggelar agenda inspiratif yang menjadi jembatan antara sekolah dan keluarga, yaitu Sekolah Orang Tua Salman (SOS). Pada hari Minggu, 15 September 2025, seluruh wali murid kelas 1 hingga 6 berkumpul di SDIT Salman Al Farisi. Acara ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan momen penting untuk menyatukan frekuensi, agar sekolah dan orang tua bisa berjalan seiring dalam mengawal proses belajar dan tumbuh kembang anak, baik di sekolah maupun di rumah. Pentingnya Sinergi di Era Digital Acara dimulai dengan pembukaan yang khidmat, diawali lantunan tilawah yang meneduhkan hati. Setelah sambutan dari Kepala Sekolah dan pengumuman-pengumuman penting, giliran Komite Sekolah menyampaikan pesan penguatan sinergi. Momen ini menegaskan bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab kolektif yang membutuhkan kolaborasi erat dari semua pihak. Puncak acara ini adalah sesi materi yang disampaikan oleh Ustadz Syafii Syukri, seorang praktisi pendidikan Islam. Beliau membawakan materi yang sangat relevan dan dinantikan, yaitu “Mendidik Anak di Fase Akil Baligh”. Ustadz Syafii menjelaskan dengan lugas bahwa fase akil baligh adalah masa krusial yang menantang, di mana peran orang tua harus berubah dari sekadar pengajar menjadi sahabat dan pembimbing. Beliau menekankan pentingnya komunikasi terbuka, membangun kepercayaan, dan menanamkan nilai-nilai keislaman sebagai benteng dari berbagai pengaruh negatif di era modern. Sesi materi diakhiri dengan tanya jawab yang interaktif. Harapan dan Komitmen Bersama Acara ditutup dengan pengumuman doorprize yang menambah keceriaan dan pengumuman penting dari pihak Yayasan. Setiap wali murid pulang dengan membawa bekal ilmu, semangat baru, dan komitmen untuk menjadi mitra sejati bagi sekolah. Sekolah Orang Tua Salman ini sekali lagi membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya berpusat di ruang kelas. Ia adalah sebuah ekosistem yang dibangun atas fondasi kolaborasi, kepercayaan, dan visi yang sama antara sekolah dan wali murid, demi masa depan anak-anak yang cerdas, berakhlak, dan tangguh.

Membangun Pondasi Akhlak: Sekolah Orang Tua Salman Ajak Wali Murid Satukan Visi Pendidikan Read More »

Lebih dari Juara: Kisah Rino, Sang Atlet Hapkido dari SDIT Salman Al Farisi, Mengukir Prestasi dengan Karakter Juara

Sejak pertama kali menginjakkan kaki sebagai siswa SDIT Salman Al Farisi 1 pada tahun 2020, di tengah awal pandemi Covid-19, perjalanan Mas Rino memang sudah terasa istimewa. Saat itu, pembelajaran daring menjadi satu-satunya pilihan. Namun, bagi orang tua Ananda Rino Rahman Pratama, kondisi tersebut justru memicu ide untuk mencari kegiatan fisik yang bisa mengisi waktu luang Rino. Pilihan sang orang tua jatuh pada beladiri Hapkido, dan siapa sangka, keputusan sederhana itu menjadi gerbang menuju segudang prestasi luar biasa. Hingga hari ini, Hapkido telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian Rino. Rutinitasnya padat: sore hari setelah pulang sekolah, ia berlatih di Dojang dua kali seminggu, ditambah lagi latihan intensif di akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Dedikasi inilah yang perlahan mengasah bakat dan mentalnya. Perjalanannya dimulai pada tahun 2023, ketika Rino duduk di bangku kelas 4 SD. Untuk pertama kalinya, ia berpartisipasi dalam Kejuaraan Hapkido tingkat Kabupaten Sleman (Kejurkab Hapkido Sleman 2023). Tak disangka, di kategori kelas tarung/Daeryun Cadet U30, Rino berhasil meraih medali emas dan terpilih sebagai Pemain Terbaik Putra. Sebuah awal yang memukau! Momentum itu terus berlanjut. Awal tahun 2024, Rino kembali berkompetisi di Kejuaraan Daerah (KEJURDA Hapkido DIY 2024), ajang bergengsi yang mempertemukan atlet-atlet terbaik dari seluruh kabupaten dan kota se-DIY. Dengan semangat membara, ia kembali pulang dengan medali emas di kategori kelas tarung/Daeryun Cadet U30. Prestasi demi prestasi terus terukir. Beberapa bulan berselang, di Kejurkab Sleman 2024, Rino menambah koleksi medalinya dengan emas di kategori kelas tarung/Daeryun Cadet U33 dan perak di kelas seni/Hyung, serta kembali dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Putra. Tahun 2025 menjadi puncak perjalanan prestasi Rino. Di Kejurda Hapkido DIY 2025, ia berhasil meraih dua medali emas sekaligus untuk kategori kelas tarung/Daeryun Cadet U33 dan kategori kelas seni/Hyung, sekaligus kembali terpilih sebagai Pemain Terbaik Putra. Namun, tantangan sesungguhnya datang saat ia berkompetisi di ajang internasional, South East Asian Hapkido Union (SEAHU 2025) Championship. Kejuaraan ini diikuti oleh atlet-atlet dari 10 negara se-Asia Tenggara. Bermodalkan mental baja dan pengalaman segudang, Rino berhasil meraih medali perak untuk Kategori kelas tarung/Daeryun Cadet U33. Ia mampu mengalahkan perwakilan atlet dari Indonesia (Papua Barat) di pertandingan pertama dan atlet dari Thailand di pertandingan kedua. Meskipun di pertandingan final ia harus mengakui keunggulan atlet dari Kamboja, medali perak di kancah internasional adalah capaian yang sungguh membanggakan bagi orang tua dan tentu saja bagi SDIT Salman Al Farisi. Ibu Novi Rahmayanti, Ibu Rino, percaya, keberhasilan Rino tidak lepas dari peran besar sekolah. SDIT Salman Al Farisi 1 bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga berperan aktif membentuk karakter anak yang islami. Slogan sekolah JUSMANTUN (Jujur, Cerdas, Mandiri, Santun) benar-benar terinternalisasi dalam diri Rino, baik di sekolah, di rumah, bahkan saat berada di arena pertandingan. Guru-guru senantiasa memberikan doa dan semangat sebelum Rino bertanding, bahkan beberapa di antaranya pernah datang langsung menyaksikan pertandingannya, memberikan dukungan moral yang luar biasa. Selain itu, Ibu Novi mengapresiasi bagaimana guru-guru di sekolah sangat aktif dan komunikatif dalam membantu Rino memahami pelajaran. Para guru memberikan perhatian penuh dan kesabaran yang luar biasa. Sela-sela jadwal latihan beladiri dan sekolah yang padat digunakan Rino untuk membaca materi dan mengerjakan soal di rumah. Apabila ada kesulitan, guru-guru selalu bersedia menjelaskan dengan sabar dan senang hati. Orang tua Rino pun merasa diberikan ruang dan waktu yang lapang untuk berdiskusi mengenai perkembangan studi Rino, memastikan ia tidak tertinggal materi pelajaran. Kisah Rino adalah bukti nyata sinergi antara potensi anak, dukungan keluarga, dan lingkungan pendidikan yang peduli. SDIT Salman Al Farisi telah menjadi rumah kedua bagi Rino, tempat ia tidak hanya tumbuh cerdas, tetapi juga menjadi pribadi yang jujur, mandiri, dan santun, siap menghadapi tantangan global.  

Lebih dari Juara: Kisah Rino, Sang Atlet Hapkido dari SDIT Salman Al Farisi, Mengukir Prestasi dengan Karakter Juara Read More »

Dua Siswa SDIT Salman Al Farisi Borong Juara 1 di MTQ Kapanewon Mlati, Siap Berlaga di Tingkat Kabupaten

Yogyakarta, 12 Agustus 2025 – Gelombang kebahagiaan dan kebanggaan menyelimuti keluarga besar SDIT Salman Al Farisi. Pada Selasa, 12 Agustus 2025, dalam gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kapanewon Mlati yang diselenggarakan di SDN Cebongan, dua siswa unggulan SDIT Salman Al Farisi berhasil mengukir prestasi gemilang dengan meraih gelar juara 1 di dua kategori berbeda. Keberhasilan ini tidak hanya menambah deretan prestasi sekolah, tetapi juga mengukuhkan tekad mereka untuk melaju ke kompetisi di tingkat Kabupaten Sleman. Sinergi antara pembinaan yang intensif dan semangat siswa yang membara terbukti menghasilkan buah manis. Seluruh peserta menunjukkan performa terbaiknya, dan di antara mereka, dua nama yang meraih juara 1 adalah: Cendekiawan Mut Syahidan, yang berhasil meraih posisi Juara 1 MTQ. Muh. Raihan Arrasyid, yang juga berhasil menempati posisi Juara 1 Pidato PAI. Kedua siswa ini, dengan talenta dan dedikasi yang luar biasa, kini akan menjadi duta Kapanewon Mlati di ajang MTQ tingkat Kabupaten Sleman. Ini adalah sebuah kehormatan sekaligus tantangan yang mereka sambut dengan penuh optimisme. Selain dua juara pertama, keunggulan SDIT Salman Al Farisi juga tampak dari prestasi yang diraih oleh siswa-siswi lainnya. Mereka berhasil membawa pulang sejumlah penghargaan yang menunjukkan kedalaman bakat dan kerja keras: Adila Khansa Oktarina dan Bagus Damar Ramadhan sama-sama meraih Juara 2 MTQ pada kategori Putra dan Putri. Nadhira Tefana Arianto menempati Juara 3 MTQ. Alandra Farzanadhiva meraih Juara Harapan 3 MTQ. Zaid ‘Iman Nafi’an dan Aisyah Almahira S sama-sama meraih Juara Harapan 1 MHQ pada kategori Putra dan Putri Muh. Ihsan Haziqulfaruq meraih Juara Harapan 3 Adzan. Prestasi kolektif ini merupakan bukti nyata dari komitmen SDIT Salman Al Farisi untuk mencetak generasi #QuraniBerprestasi, yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kedekatan kuat dengan Al-Qur’an dan mampu menjadi teladan di masyarakat. Seluruh keluarga besar Yayasan Salman Al Farisi mengucapkan selamat dan bangga atas pencapaian ini. Mari kita doakan bersama agar Syahid dan Raihan dapat memberikan penampilan terbaik mereka di tingkat Kabupaten dan kembali mengharumkan nama Salman Al Farisi.

Dua Siswa SDIT Salman Al Farisi Borong Juara 1 di MTQ Kapanewon Mlati, Siap Berlaga di Tingkat Kabupaten Read More »

Hangat dan Dekat dengan Siswa: Kisah Profesor UNY yang Percayakan Masa Depan 4 Anaknya di SDIT Salman Al Farisi

Kepercayaan adalah fondasi. Ia tumbuh dari jejak pengalaman dan rekam jejak baik yang dirasakan langsung. Begitulah kiranya yang dialami Prof. Dr. Antuni Wiyarsi, M.Sc., atau akrab disapa Bu Antuni, salah satu guru besar di Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sosok akademisi ini tanpa ragu mempercayakan pendidikan keempat buah hatinya sejak dini di Sekolah Salman Al Farisi Jogja. Bukan tanpa alas an, keempat putra-putri Bu Antuni: Rafi (angkatan 8), Fikri (angkatan 10), Syadza (angkatan 14), dan si bungsu Naura (angkatan 18), semuanya mengawali jejak pendidikan di Salman Al Farisi. Mulai dari TKIT Salman Al Farisi 2 Klebengan, bahkan si bungsu Naura sudah bergabung sejak Kelompok Bermain di KBIT Salman Al Farisi 3. Kebersamaan ini berlanjut hingga jenjang Sekolah Dasar di SDIT Salman Al Farisi 1 Pogungrejo. Sebuah keputusan konsisten yang menandakan keyakinan yang mendalam akan kualitas pendidikan sekolah Salman Al Farisi. Mengapa Salman Al Farisi Menjadi Pilihan? Sebagai seorang pendidik, Bu Antuni sangat memahami bahwa pendidikan adalah trilogi yang tak terpisahkan: keluarga, masyarakat, dan sekolah. Mengandalkan salah satunya saja tak cukup. Anak membutuhkan dukungan penuh dari semua lini untuk mencapai potensi terbaiknya. Lebih dari sekadar pelajaran umum, Bu Antuni berpegang teguh pada prinsip bahwa anak-anaknya wajib memahami dan mencintai agamanya. Oleh karena itu, sekolah Islam Terpadu (IT) adalah jawaban mutlak baginya sebagai jawaban keseimbangan pelajaran umum dan agama. Sebelum menjatuhkan pilihan, Bu Antuni sebenarnya telah melakukan survei ke berbagai sekolah IT di Jogja. Namun, dari beberapa sekolah yang tersurvei, Salman Al Farisi berhasil memikat hati beliau. Apa rahasianya? “Guru-gurunya friendly dan dekat dengan siswa,” ungkap beliau. Sebuah poin krusial yang beliau temukan. Selain itu, Salman Al Farisi tidak menganut paham “kognitif segalanya”, suatu pendekatan yang sangat sejalan dengan prinsip Bu Antuni sebagai seorang akademisi. Bagi beliau, pendidikan dasar terbaik adalah yang mampu menciptakan kenyamanan dan sungguh-sungguh memerhatikan tumbuh kembang siswanya, baik secara akademik maupun karakter. Harmoni Antara Kualitas dan Karakter Meskipun SDIT Salman Al Farisi 1 tidak mengedepankan kompetisi kognitif semata, bukan berarti kualitas akademiknya lantas rendah. Justru sebaliknya, sekolah ini mampu bersaing di jajaran atas SD-SD di tingkat kecamatan dan kabupaten. Tak hanya itu, program ekstrakurikulernya yang beragam mampu memfasilitasi minat si bungsu Naura secara khusus di bidang kreatif, yang salah satunya adalah menggambar. Lebih dari itu, progres hafalan Al-Qur’an anak-anak beliau juga terus membaik. Naura, si bungsu yang baru saja lulus, telah berhasil menghafal 3 juz Al-Qur’an, serta dinyatakan lulus Tahsin dan Imtihan Metode Qiroati. Sebuah pencapaian yang menjadi bukti nyata keberhasilan pendidikan agama yang terintegrasi di Salman Al Farisi. Kepuasan dan Harapan untuk Masa Depan Secara keseluruhan, Bu Antuni menyatakan puas dengan sistem pendidikan di Salman Al Farisi. “Kekeluargaannya bagus, dari tahun ke tahun program-program dan target semakin berkembang”. Harapan besar pun beliau gantungkan. Semoga Salman Al Farisi terus tumbuh dan berkembang, agar senantiasa dapat bermanfaat luas bagi generasi penerus, serta menciptakan iklim sekolah yang tidak hanya nyaman, tetapi juga kompetitif. Kisah Bu Antuni adalah cerminan kepercayaan seorang ibu dan akademisi yang memilih bukan hanya berdasarkan nama besar, melainkan kedekatan, nilai, dan rekam jejak nyata dalam membentuk karakter anak.  

Hangat dan Dekat dengan Siswa: Kisah Profesor UNY yang Percayakan Masa Depan 4 Anaknya di SDIT Salman Al Farisi Read More »

Dibalik Gelar S2 UGM dan Tangis Anak: Kisah Ibu Tangguh Membimbing Wafa Menjadi Hafizah Berprestasi di SDIT Salman Al Farisi

Di tengah hiruk pikuk persiapan ujian tugas akhir dan kegiatan perkuliahan yang padat di UGM, seorang ibu bernama Nikmah Abu Sama, ST., M.URP., membagikan sekelumit kisahnya. Sebuah kisah tentang perjuangan, keikhlasan, dan keberkahan dalam mendampingi sang putri, Wafa Thahirah, meniti jalan pendidikan dan hafalan Al-Qur’an, terutama setelah keduanya memutuskan hijrah ke Kota Gudeg ini dan bergabung dengan keluarga besar SDIT Salman Al Farisi. “Rasanya semua masih seperti kemarin,” kenang Ibu, memulai kisahnya. “Agustus 2022, adalah bulan krusial bagi kami. Saat itu, Wafa masih duduk di kelas IV semester 2 ketika kami memutuskan Wafa pindah sekolah ke SDIT Salman Al Farisi.” Wafa menjalani tes masuk yang meliputi baca Al-Qur’an dan beberapa mata pelajaran, diuji langsung oleh Ibu Azizah. “Alhamdulillah, Wafa dinyatakan diterima, dan kebetulan sekali Ibu Azizah juga yang menjadi wali kelas IV-nya saat itu. Ibu Azizah ini masyaAllah, sangat lembut dan pandai membujuk anak-anak,” lanjut Ibu. Adaptasi Penuh Drama dan Kelembutan Guru Masa adaptasi Wafa di sekolah baru bukan tanpa tantangan. Wafa, seorang anak yang senang bercerita namun mudah minder, menunjukkan kecemasannya di awal. “Saya ingat betul, suatu pagi kami sudah sampai sekolah, anak-anak sudah berbaris. Tiba-tiba Wafa menangis, tidak mau masuk. Katanya, ‘Ade malu, Ummi, Ade diliatin kalau terlambat.’ Padahal belum terlambat, tapi dia tetap kekeh ingin pulang. Sampai Ibu Azizah turun tangan langsung membujuknya. Alhamdulillah, teratasi,”. Pengalaman itu membentuk kebiasaan Wafa yang kini paling takut terlambat, bahkan seringkali tiba di sekolah saat belum ada siapa-siapa. Keputusan Wafa pindah ke Jogja semata-mata untuk ikut sang ibu yang kala itu melanjutkan studi S2 di UGM. Awalnya, Ibu meninggalkan Wafa bersama kakek neneknya di Bacan, Halmahera Selatan, agar Ibu bisa fokus kuliah. Tapi, begitu tahu Wafa sering sakit kalau ditinggal Ibu, hati Ibu menjadi tidak tenang sehingga beliau putuskan untuk membawanya Wafa untuk ikut ke Jogja. Adaptasi Wafa di lingkungan baru menuntut pendampingan ekstra. Ibu harus pandai membagi waktu antara tugas kuliah dan belajar bersama putrinya. “Gurunya memberi tahu bahwa Wafa harus mengejar beberapa mata pelajaran yang tertinggal di semester 1 dan mempersiapkan pelajaran di semester 2 kelas IV. Yang paling menantang adalah hafalan Qur’annya yang harus dimulai dari awal lagi di Salman, karena metodenya berbeda,” tambahnya. Prinsip Memuliakan Penghafal Al-Qur’an: Dedikasi Ibu di Tengah Kesibukan S2 “Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik, walau ada asam garamnya,” tutur Ibu. Dengan prinsip ‘memuliakan penghafal Qur’an InsyaAllah segalanya akan Allah mudahkan,’ beliau mulai membagi waktu dengan semaksimal mungkin, selalu mendahulukan kebutuhan Wafa. Sebelum pindah, Wafa memang sudah memiliki hafalan 10 juz, dimulai dari Juz 30 lalu ke Juz 1, bahkan di usia 3,5 tahun sudah hafal 2 juz. Kata guru ngajinya dulu, Wafa dan kakaknya termasuk anak yang cepat menghafal. “Sejak saat itu, saya makin konsen dengan hafalan anak-anak. Karena bagi saya, harta saya yang paling berharga adalah mereka dan Qur’an yang ada dalam diri mereka,” ucap Ibu penuh haru. Kesungguhan sang ibu dalam membina Wafa di tengah kesibukan kuliah S2 patut diacungi jempol. Ketakutan akan luntur hafalan lama Wafa menjadi perhatian utama. Bersama Wafa, serangkaian jadwal ketat disepakati: sholat 5 waktu, Tahajud, belajar, dan larangan memegang HP kecuali akhir pekan. Rutinitas murojaah Wafa tetap berjalan setelah Magrib hingga Isya, kebiasaan yang sudah diterapkan sejak Wafa dan kakaknya berusia 3,5 dan 5 tahun. Ini adalah fondasi istiqomah menghafal Al-Qur’an yang ditanamkan Ibu sejak dini. Selama di Jogja, Wafa juga diikutsertakan dalam program One Day One Juz untuk menjaga hafalan sebelumnya. “Untuk hafalan di sekolah, setiap Subuh Wafa harus setor 2 sampai 3 ayat, kadang lebih, kepada saya sebelum berangkat sekolah. Jadi, saat setoran hafalan di sekolah, dia sudah lancar. Setoran di rumah lebih banyak dari di sekolah, di sekolah tinggal diperbaiki lafaznya dan lancar setorannya,” jelas Ibu. Rutinitas ini dijaga dengan penuh komitmen, bahkan setiap ujian kenaikan juz, Ibu selalu memberikan hadiah sesuai permintaan Wafa, seperti jalan-jalan atau buku baru, sebagai motivasi. Dukungan Penuh dari SDIT Salman Al Farisi dan Kisah Masa Lalu Tentu saja, perjalanan ini tidak lepas dari “drama” khas anak-anak. “Kadang Wafa merajuk, menangis, marah, dan mengeluh capek,” aku Ibu. Di saat-saat seperti itu, ia selalu mengingatkan putrinya, “Ummi dan Ade ke sini kan untuk belajar. Kalau mau main, kenapa jauh-jauh ke Jogja? Di daerah juga bisa main. Tapi tujuan Ade dan Ummi kan bukan itu. Semua orang juga capek, tapi kalau Ade capek dalam ibadah, InsyaAllah tidak ada yang sia-sia. Ade akan lebih bahagia dari apa yang Ade impikan, Allah akan beri yang lebih dari itu. Apalagi kalau Ade selalu murojaah, karena Ummi 1×24 jam tidak selalu bersama Ade, Allah lah yang terus bersama Ade, dan Al-Qur’an yang akan selalu menjaga Ade sampai Ade dewasa.” Perlahan, Wafa mulai mengerti. Kadang, justru Wafa yang membangunkan Ibunya untuk setor hafalan sebelum sekolah jika Ibunya ketiduran karena lembur tugas. “Campur aduk rasanya, Mbak. Di satu sisi capek survei tugas, balik ke kontrakan langsung berhadapan dengan tugas sekolah anak. Namanya manusia, ada marah, sedih, dan bahagia. Ada titik di mana saya hanya bisa memohon, ‘Allah, Allah, Allah, jangan jauh-jauh dari saya,’” Ibu mengungkapkan perasaannya. Alhamdulillah, kepindahan Wafa ke Jogja dan sekolah di Salman membawa peningkatan prestasi yang signifikan. Ia terpilih ikut MTQ Nasional tingkat SD, menyelesaikan tahsin metode Qiroati dan wisuda pada 26 November 2022 di awal masuk kelas 4. Wafa juga meraih juara 1 MHQ tingkat kecamatan dan juara 3 MTQ tingkat kabupaten. Sampai ketika wisuda kemarin, Wafa menjadi peraih hafalan tertinggi dengan total 4 juz hafalan selama belajar di SDIT Salman Al Farisi. Peran SDIT Salman Al Farisi dalam mendampingi dan mendukung hafalan Qur’an Wafa tidak bisa dipandang sebelah mata. “Semua itu tidak terlepas dari bimbingan guru-guru hebat di Salman,” tegas Ibu. Ia menyebutkan Ibu Dwi, Ibu Iir, Ibu Azizah, Bapak Irwan, dan banyak guru lainnya yang berperan besar. “Jasa mereka tidak dapat dibalas dengan bentuk apapun, selain Allah lah pembalas semua kebaikan mereka. Berkah ilmu semoga sampai ke keluarga para guru-guru di SDIT Salman Al Farisi.” Dari Sudut Pandang Wafa: Dorongan Kompetisi dan Dukungan Tiada Henti Wafa sendiri, dengan polosnya mengakui bagaimana dorongan dari lingkungan barunya memacunya. “Sebenarnya, sebelum saya masuk Salman, saya sudah punya hafalan 10 juz, tapi mulainya

Dibalik Gelar S2 UGM dan Tangis Anak: Kisah Ibu Tangguh Membimbing Wafa Menjadi Hafizah Berprestasi di SDIT Salman Al Farisi Read More »