Website SAF jogja

SDIT 1

Dua Siswa SDIT Salman Al Farisi Borong Juara 1 di MTQ Kapanewon Mlati, Siap Berlaga di Tingkat Kabupaten

Yogyakarta, 12 Agustus 2025 – Gelombang kebahagiaan dan kebanggaan menyelimuti keluarga besar SDIT Salman Al Farisi. Pada Selasa, 12 Agustus 2025, dalam gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kapanewon Mlati yang diselenggarakan di SDN Cebongan, dua siswa unggulan SDIT Salman Al Farisi berhasil mengukir prestasi gemilang dengan meraih gelar juara 1 di dua kategori berbeda. Keberhasilan ini tidak hanya menambah deretan prestasi sekolah, tetapi juga mengukuhkan tekad mereka untuk melaju ke kompetisi di tingkat Kabupaten Sleman. Sinergi antara pembinaan yang intensif dan semangat siswa yang membara terbukti menghasilkan buah manis. Seluruh peserta menunjukkan performa terbaiknya, dan di antara mereka, dua nama yang meraih juara 1 adalah: Cendekiawan Mut Syahidan, yang berhasil meraih posisi Juara 1 MTQ. Muh. Raihan Arrasyid, yang juga berhasil menempati posisi Juara 1 Pidato PAI. Kedua siswa ini, dengan talenta dan dedikasi yang luar biasa, kini akan menjadi duta Kapanewon Mlati di ajang MTQ tingkat Kabupaten Sleman. Ini adalah sebuah kehormatan sekaligus tantangan yang mereka sambut dengan penuh optimisme. Selain dua juara pertama, keunggulan SDIT Salman Al Farisi juga tampak dari prestasi yang diraih oleh siswa-siswi lainnya. Mereka berhasil membawa pulang sejumlah penghargaan yang menunjukkan kedalaman bakat dan kerja keras: Adila Khansa Oktarina dan Bagus Damar Ramadhan sama-sama meraih Juara 2 MTQ pada kategori Putra dan Putri. Nadhira Tefana Arianto menempati Juara 3 MTQ. Alandra Farzanadhiva meraih Juara Harapan 3 MTQ. Zaid ‘Iman Nafi’an dan Aisyah Almahira S sama-sama meraih Juara Harapan 1 MHQ pada kategori Putra dan Putri Muh. Ihsan Haziqulfaruq meraih Juara Harapan 3 Adzan. Prestasi kolektif ini merupakan bukti nyata dari komitmen SDIT Salman Al Farisi untuk mencetak generasi #QuraniBerprestasi, yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kedekatan kuat dengan Al-Qur’an dan mampu menjadi teladan di masyarakat. Seluruh keluarga besar Yayasan Salman Al Farisi mengucapkan selamat dan bangga atas pencapaian ini. Mari kita doakan bersama agar Syahid dan Raihan dapat memberikan penampilan terbaik mereka di tingkat Kabupaten dan kembali mengharumkan nama Salman Al Farisi.

Dua Siswa SDIT Salman Al Farisi Borong Juara 1 di MTQ Kapanewon Mlati, Siap Berlaga di Tingkat Kabupaten Read More »

Hangat dan Dekat dengan Siswa: Kisah Profesor UNY yang Percayakan Masa Depan 4 Anaknya di SDIT Salman Al Farisi

Kepercayaan adalah fondasi. Ia tumbuh dari jejak pengalaman dan rekam jejak baik yang dirasakan langsung. Begitulah kiranya yang dialami Prof. Dr. Antuni Wiyarsi, M.Sc., atau akrab disapa Bu Antuni, salah satu guru besar di Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sosok akademisi ini tanpa ragu mempercayakan pendidikan keempat buah hatinya sejak dini di Sekolah Salman Al Farisi Jogja. Bukan tanpa alas an, keempat putra-putri Bu Antuni: Rafi (angkatan 8), Fikri (angkatan 10), Syadza (angkatan 14), dan si bungsu Naura (angkatan 18), semuanya mengawali jejak pendidikan di Salman Al Farisi. Mulai dari TKIT Salman Al Farisi 2 Klebengan, bahkan si bungsu Naura sudah bergabung sejak Kelompok Bermain di KBIT Salman Al Farisi 3. Kebersamaan ini berlanjut hingga jenjang Sekolah Dasar di SDIT Salman Al Farisi 1 Pogungrejo. Sebuah keputusan konsisten yang menandakan keyakinan yang mendalam akan kualitas pendidikan sekolah Salman Al Farisi. Mengapa Salman Al Farisi Menjadi Pilihan? Sebagai seorang pendidik, Bu Antuni sangat memahami bahwa pendidikan adalah trilogi yang tak terpisahkan: keluarga, masyarakat, dan sekolah. Mengandalkan salah satunya saja tak cukup. Anak membutuhkan dukungan penuh dari semua lini untuk mencapai potensi terbaiknya. Lebih dari sekadar pelajaran umum, Bu Antuni berpegang teguh pada prinsip bahwa anak-anaknya wajib memahami dan mencintai agamanya. Oleh karena itu, sekolah Islam Terpadu (IT) adalah jawaban mutlak baginya sebagai jawaban keseimbangan pelajaran umum dan agama. Sebelum menjatuhkan pilihan, Bu Antuni sebenarnya telah melakukan survei ke berbagai sekolah IT di Jogja. Namun, dari beberapa sekolah yang tersurvei, Salman Al Farisi berhasil memikat hati beliau. Apa rahasianya? “Guru-gurunya friendly dan dekat dengan siswa,” ungkap beliau. Sebuah poin krusial yang beliau temukan. Selain itu, Salman Al Farisi tidak menganut paham “kognitif segalanya”, suatu pendekatan yang sangat sejalan dengan prinsip Bu Antuni sebagai seorang akademisi. Bagi beliau, pendidikan dasar terbaik adalah yang mampu menciptakan kenyamanan dan sungguh-sungguh memerhatikan tumbuh kembang siswanya, baik secara akademik maupun karakter. Harmoni Antara Kualitas dan Karakter Meskipun SDIT Salman Al Farisi 1 tidak mengedepankan kompetisi kognitif semata, bukan berarti kualitas akademiknya lantas rendah. Justru sebaliknya, sekolah ini mampu bersaing di jajaran atas SD-SD di tingkat kecamatan dan kabupaten. Tak hanya itu, program ekstrakurikulernya yang beragam mampu memfasilitasi minat si bungsu Naura secara khusus di bidang kreatif, yang salah satunya adalah menggambar. Lebih dari itu, progres hafalan Al-Qur’an anak-anak beliau juga terus membaik. Naura, si bungsu yang baru saja lulus, telah berhasil menghafal 3 juz Al-Qur’an, serta dinyatakan lulus Tahsin dan Imtihan Metode Qiroati. Sebuah pencapaian yang menjadi bukti nyata keberhasilan pendidikan agama yang terintegrasi di Salman Al Farisi. Kepuasan dan Harapan untuk Masa Depan Secara keseluruhan, Bu Antuni menyatakan puas dengan sistem pendidikan di Salman Al Farisi. “Kekeluargaannya bagus, dari tahun ke tahun program-program dan target semakin berkembang”. Harapan besar pun beliau gantungkan. Semoga Salman Al Farisi terus tumbuh dan berkembang, agar senantiasa dapat bermanfaat luas bagi generasi penerus, serta menciptakan iklim sekolah yang tidak hanya nyaman, tetapi juga kompetitif. Kisah Bu Antuni adalah cerminan kepercayaan seorang ibu dan akademisi yang memilih bukan hanya berdasarkan nama besar, melainkan kedekatan, nilai, dan rekam jejak nyata dalam membentuk karakter anak.  

Hangat dan Dekat dengan Siswa: Kisah Profesor UNY yang Percayakan Masa Depan 4 Anaknya di SDIT Salman Al Farisi Read More »

Dibalik Gelar S2 UGM dan Tangis Anak: Kisah Ibu Tangguh Membimbing Wafa Menjadi Hafizah Berprestasi di SDIT Salman Al Farisi

Di tengah hiruk pikuk persiapan ujian tugas akhir dan kegiatan perkuliahan yang padat di UGM, seorang ibu bernama Nikmah Abu Sama, ST., M.URP., membagikan sekelumit kisahnya. Sebuah kisah tentang perjuangan, keikhlasan, dan keberkahan dalam mendampingi sang putri, Wafa Thahirah, meniti jalan pendidikan dan hafalan Al-Qur’an, terutama setelah keduanya memutuskan hijrah ke Kota Gudeg ini dan bergabung dengan keluarga besar SDIT Salman Al Farisi. “Rasanya semua masih seperti kemarin,” kenang Ibu, memulai kisahnya. “Agustus 2022, adalah bulan krusial bagi kami. Saat itu, Wafa masih duduk di kelas IV semester 2 ketika kami memutuskan Wafa pindah sekolah ke SDIT Salman Al Farisi.” Wafa menjalani tes masuk yang meliputi baca Al-Qur’an dan beberapa mata pelajaran, diuji langsung oleh Ibu Azizah. “Alhamdulillah, Wafa dinyatakan diterima, dan kebetulan sekali Ibu Azizah juga yang menjadi wali kelas IV-nya saat itu. Ibu Azizah ini masyaAllah, sangat lembut dan pandai membujuk anak-anak,” lanjut Ibu. Adaptasi Penuh Drama dan Kelembutan Guru Masa adaptasi Wafa di sekolah baru bukan tanpa tantangan. Wafa, seorang anak yang senang bercerita namun mudah minder, menunjukkan kecemasannya di awal. “Saya ingat betul, suatu pagi kami sudah sampai sekolah, anak-anak sudah berbaris. Tiba-tiba Wafa menangis, tidak mau masuk. Katanya, ‘Ade malu, Ummi, Ade diliatin kalau terlambat.’ Padahal belum terlambat, tapi dia tetap kekeh ingin pulang. Sampai Ibu Azizah turun tangan langsung membujuknya. Alhamdulillah, teratasi,”. Pengalaman itu membentuk kebiasaan Wafa yang kini paling takut terlambat, bahkan seringkali tiba di sekolah saat belum ada siapa-siapa. Keputusan Wafa pindah ke Jogja semata-mata untuk ikut sang ibu yang kala itu melanjutkan studi S2 di UGM. Awalnya, Ibu meninggalkan Wafa bersama kakek neneknya di Bacan, Halmahera Selatan, agar Ibu bisa fokus kuliah. Tapi, begitu tahu Wafa sering sakit kalau ditinggal Ibu, hati Ibu menjadi tidak tenang sehingga beliau putuskan untuk membawanya Wafa untuk ikut ke Jogja. Adaptasi Wafa di lingkungan baru menuntut pendampingan ekstra. Ibu harus pandai membagi waktu antara tugas kuliah dan belajar bersama putrinya. “Gurunya memberi tahu bahwa Wafa harus mengejar beberapa mata pelajaran yang tertinggal di semester 1 dan mempersiapkan pelajaran di semester 2 kelas IV. Yang paling menantang adalah hafalan Qur’annya yang harus dimulai dari awal lagi di Salman, karena metodenya berbeda,” tambahnya. Prinsip Memuliakan Penghafal Al-Qur’an: Dedikasi Ibu di Tengah Kesibukan S2 “Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik, walau ada asam garamnya,” tutur Ibu. Dengan prinsip ‘memuliakan penghafal Qur’an InsyaAllah segalanya akan Allah mudahkan,’ beliau mulai membagi waktu dengan semaksimal mungkin, selalu mendahulukan kebutuhan Wafa. Sebelum pindah, Wafa memang sudah memiliki hafalan 10 juz, dimulai dari Juz 30 lalu ke Juz 1, bahkan di usia 3,5 tahun sudah hafal 2 juz. Kata guru ngajinya dulu, Wafa dan kakaknya termasuk anak yang cepat menghafal. “Sejak saat itu, saya makin konsen dengan hafalan anak-anak. Karena bagi saya, harta saya yang paling berharga adalah mereka dan Qur’an yang ada dalam diri mereka,” ucap Ibu penuh haru. Kesungguhan sang ibu dalam membina Wafa di tengah kesibukan kuliah S2 patut diacungi jempol. Ketakutan akan luntur hafalan lama Wafa menjadi perhatian utama. Bersama Wafa, serangkaian jadwal ketat disepakati: sholat 5 waktu, Tahajud, belajar, dan larangan memegang HP kecuali akhir pekan. Rutinitas murojaah Wafa tetap berjalan setelah Magrib hingga Isya, kebiasaan yang sudah diterapkan sejak Wafa dan kakaknya berusia 3,5 dan 5 tahun. Ini adalah fondasi istiqomah menghafal Al-Qur’an yang ditanamkan Ibu sejak dini. Selama di Jogja, Wafa juga diikutsertakan dalam program One Day One Juz untuk menjaga hafalan sebelumnya. “Untuk hafalan di sekolah, setiap Subuh Wafa harus setor 2 sampai 3 ayat, kadang lebih, kepada saya sebelum berangkat sekolah. Jadi, saat setoran hafalan di sekolah, dia sudah lancar. Setoran di rumah lebih banyak dari di sekolah, di sekolah tinggal diperbaiki lafaznya dan lancar setorannya,” jelas Ibu. Rutinitas ini dijaga dengan penuh komitmen, bahkan setiap ujian kenaikan juz, Ibu selalu memberikan hadiah sesuai permintaan Wafa, seperti jalan-jalan atau buku baru, sebagai motivasi. Dukungan Penuh dari SDIT Salman Al Farisi dan Kisah Masa Lalu Tentu saja, perjalanan ini tidak lepas dari “drama” khas anak-anak. “Kadang Wafa merajuk, menangis, marah, dan mengeluh capek,” aku Ibu. Di saat-saat seperti itu, ia selalu mengingatkan putrinya, “Ummi dan Ade ke sini kan untuk belajar. Kalau mau main, kenapa jauh-jauh ke Jogja? Di daerah juga bisa main. Tapi tujuan Ade dan Ummi kan bukan itu. Semua orang juga capek, tapi kalau Ade capek dalam ibadah, InsyaAllah tidak ada yang sia-sia. Ade akan lebih bahagia dari apa yang Ade impikan, Allah akan beri yang lebih dari itu. Apalagi kalau Ade selalu murojaah, karena Ummi 1×24 jam tidak selalu bersama Ade, Allah lah yang terus bersama Ade, dan Al-Qur’an yang akan selalu menjaga Ade sampai Ade dewasa.” Perlahan, Wafa mulai mengerti. Kadang, justru Wafa yang membangunkan Ibunya untuk setor hafalan sebelum sekolah jika Ibunya ketiduran karena lembur tugas. “Campur aduk rasanya, Mbak. Di satu sisi capek survei tugas, balik ke kontrakan langsung berhadapan dengan tugas sekolah anak. Namanya manusia, ada marah, sedih, dan bahagia. Ada titik di mana saya hanya bisa memohon, ‘Allah, Allah, Allah, jangan jauh-jauh dari saya,’” Ibu mengungkapkan perasaannya. Alhamdulillah, kepindahan Wafa ke Jogja dan sekolah di Salman membawa peningkatan prestasi yang signifikan. Ia terpilih ikut MTQ Nasional tingkat SD, menyelesaikan tahsin metode Qiroati dan wisuda pada 26 November 2022 di awal masuk kelas 4. Wafa juga meraih juara 1 MHQ tingkat kecamatan dan juara 3 MTQ tingkat kabupaten. Sampai ketika wisuda kemarin, Wafa menjadi peraih hafalan tertinggi dengan total 4 juz hafalan selama belajar di SDIT Salman Al Farisi. Peran SDIT Salman Al Farisi dalam mendampingi dan mendukung hafalan Qur’an Wafa tidak bisa dipandang sebelah mata. “Semua itu tidak terlepas dari bimbingan guru-guru hebat di Salman,” tegas Ibu. Ia menyebutkan Ibu Dwi, Ibu Iir, Ibu Azizah, Bapak Irwan, dan banyak guru lainnya yang berperan besar. “Jasa mereka tidak dapat dibalas dengan bentuk apapun, selain Allah lah pembalas semua kebaikan mereka. Berkah ilmu semoga sampai ke keluarga para guru-guru di SDIT Salman Al Farisi.” Dari Sudut Pandang Wafa: Dorongan Kompetisi dan Dukungan Tiada Henti Wafa sendiri, dengan polosnya mengakui bagaimana dorongan dari lingkungan barunya memacunya. “Sebenarnya, sebelum saya masuk Salman, saya sudah punya hafalan 10 juz, tapi mulainya

Dibalik Gelar S2 UGM dan Tangis Anak: Kisah Ibu Tangguh Membimbing Wafa Menjadi Hafizah Berprestasi di SDIT Salman Al Farisi Read More »

Regenerasi Kepemimpinan: Ibu Ratu Artha Luky Dewantari, S.Pd., M.M. Resmi Jabat Kepala Sekolah SDIT Salman Al Farisi

Depok, 30 Juni 2025 – Suasana haru dan penuh kehangatan menyelimuti SDIT Salman Al Farisi pada hari Senin, 30 Juni 2025, saat dilaksanakannya Serah Terima Jabatan Kepala Sekolah untuk periode 2025-2028. Acara ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan Yayasan, menandai regenerasi kepemimpinan yang bertujuan memberikan kesempatan bagi seluruh guru dan karyawan untuk terus bertumbuh serta berkembang. Ibu Puji Astuti, S.Pd., yang telah mendedikasikan diri sebagai kepala sekolah selama periode sebelumnya, secara resmi menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada Ibu Ratu Artha Luky Dewantari, S.Pd., M.M. Momen ini berlangsung khidmat, diwarnai dengan kenangan-kenangan manis selama masa jabatan Ibu Puji Astuti yang telah membawa banyak kemajuan bagi sekolah. Dalam sambutannya, Ibu Puji Astuti menyampaikan rasa terima kasihnya atas dukungan dan kerja sama dari seluruh civitas akademika SDIT Salman Al Farisi. Beliau juga mengenang berbagai suka dan duka yang telah dilalui bersama, menegaskan bahwa setiap tantangan adalah bagian dari proses pembelajaran dan pertumbuhan. Sementara itu, Ibu Ratu Artha Luky Dewantari, S.Pd., M.M., dalam pidato perdananya sebagai kepala sekolah baru, mengungkapkan rasa syukur dan komitmennya untuk melanjutkan serta mengembangkan program-program yang telah berjalan baik. Beliau juga menekankan pentingnya kolaborasi dan inovasi demi kemajuan pendidikan di SDIT Salman Al Farisi. Acara semakin mengharukan dengan adanya sesi penyampaian kesan dan pesan dari perwakilan komite sekolah. Mereka menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi Ibu Puji Astuti dan menyambut hangat kepemimpinan Ibu Ratu Artha Luky Dewantari, berharap sekolah akan terus berprestasi di bawah nahkoda baru. Serah terima jabatan ini bukan hanya sekadar pergantian posisi, melainkan sebuah manifestasi dari visi Yayasan untuk terus berinovasi dan memberikan ruang bagi setiap individu untuk berkontribusi secara maksimal. Dengan semangat baru dan komitmen bersama, SDIT Salman Al Farisi siap menyongsong masa depan yang lebih cerah.

Regenerasi Kepemimpinan: Ibu Ratu Artha Luky Dewantari, S.Pd., M.M. Resmi Jabat Kepala Sekolah SDIT Salman Al Farisi Read More »