Kepercayaan adalah fondasi. Ia tumbuh dari jejak pengalaman dan rekam jejak baik yang dirasakan langsung. Begitulah kiranya yang dialami Prof. Dr. Antuni Wiyarsi, M.Sc., atau akrab disapa Bu Antuni, salah satu guru besar di Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sosok akademisi ini tanpa ragu mempercayakan pendidikan keempat buah hatinya sejak dini di Sekolah Salman Al Farisi Jogja.
Bukan tanpa alas an, keempat putra-putri Bu Antuni: Rafi (angkatan 8), Fikri (angkatan 10), Syadza (angkatan 14), dan si bungsu Naura (angkatan 18), semuanya mengawali jejak pendidikan di Salman Al Farisi. Mulai dari TKIT Salman Al Farisi 2 Klebengan, bahkan si bungsu Naura sudah bergabung sejak Kelompok Bermain di KBIT Salman Al Farisi 3. Kebersamaan ini berlanjut hingga jenjang Sekolah Dasar di SDIT Salman Al Farisi 1 Pogungrejo. Sebuah keputusan konsisten yang menandakan keyakinan yang mendalam akan kualitas pendidikan sekolah Salman Al Farisi.
Mengapa Salman Al Farisi Menjadi Pilihan?
Sebagai seorang pendidik, Bu Antuni sangat memahami bahwa pendidikan adalah trilogi yang tak terpisahkan: keluarga, masyarakat, dan sekolah. Mengandalkan salah satunya saja tak cukup. Anak membutuhkan dukungan penuh dari semua lini untuk mencapai potensi terbaiknya. Lebih dari sekadar pelajaran umum, Bu Antuni berpegang teguh pada prinsip bahwa anak-anaknya wajib memahami dan mencintai agamanya. Oleh karena itu, sekolah Islam Terpadu (IT) adalah jawaban mutlak baginya sebagai jawaban keseimbangan pelajaran umum dan agama.
Sebelum menjatuhkan pilihan, Bu Antuni sebenarnya telah melakukan survei ke berbagai sekolah IT di Jogja. Namun, dari beberapa sekolah yang tersurvei, Salman Al Farisi berhasil memikat hati beliau. Apa rahasianya? “Guru-gurunya friendly dan dekat dengan siswa,” ungkap beliau. Sebuah poin krusial yang beliau temukan.
Selain itu, Salman Al Farisi tidak menganut paham “kognitif segalanya”, suatu pendekatan yang sangat sejalan dengan prinsip Bu Antuni sebagai seorang akademisi. Bagi beliau, pendidikan dasar terbaik adalah yang mampu menciptakan kenyamanan dan sungguh-sungguh memerhatikan tumbuh kembang siswanya, baik secara akademik maupun karakter.
Harmoni Antara Kualitas dan Karakter
Meskipun SDIT Salman Al Farisi 1 tidak mengedepankan kompetisi kognitif semata, bukan berarti kualitas akademiknya lantas rendah. Justru sebaliknya, sekolah ini mampu bersaing di jajaran atas SD-SD di tingkat kecamatan dan kabupaten. Tak hanya itu, program ekstrakurikulernya yang beragam mampu memfasilitasi minat si bungsu Naura secara khusus di bidang kreatif, yang salah satunya adalah menggambar.
Lebih dari itu, progres hafalan Al-Qur’an anak-anak beliau juga terus membaik. Naura, si bungsu yang baru saja lulus, telah berhasil menghafal 3 juz Al-Qur’an, serta dinyatakan lulus Tahsin dan Imtihan Metode Qiroati. Sebuah pencapaian yang menjadi bukti nyata keberhasilan pendidikan agama yang terintegrasi di Salman Al Farisi.
Kepuasan dan Harapan untuk Masa Depan
Secara keseluruhan, Bu Antuni menyatakan puas dengan sistem pendidikan di Salman Al Farisi. “Kekeluargaannya bagus, dari tahun ke tahun program-program dan target semakin berkembang”.
Harapan besar pun beliau gantungkan. Semoga Salman Al Farisi terus tumbuh dan berkembang, agar senantiasa dapat bermanfaat luas bagi generasi penerus, serta menciptakan iklim sekolah yang tidak hanya nyaman, tetapi juga kompetitif. Kisah Bu Antuni adalah cerminan kepercayaan seorang ibu dan akademisi yang memilih bukan hanya berdasarkan nama besar, melainkan kedekatan, nilai, dan rekam jejak nyata dalam membentuk karakter anak.
