Website SAF jogja

Dari Samarinda Sampai Yogyakarta: Haikal dan Transformasi Diri di SMPIT Salman Al Farisi

“Mandiri, berani, tegas, dan disiplin,” demikian beliau menggambarkan putranya saat ini. Sebuah perubahan drastis dari sosok Haikal yang mereka kenal sebelumnya.

Awal Perjalanan: Jejak Digital Menuju Pilihan Terbaik

Pilihan untuk menyekolahkan Haikal di SMPIT Salman Al Farisi bermula dari penelusuran jejak digital. “Kami melihat unggahan di Instagram dan YouTube Yayasan Salman Al Farisi,” tutur orang tua Haikal. “Dari sana, kami merasa SMPIT Salman Al Farisi adalah lembaga yang tepat untuk mengajarkan nilai-nilai kepribadian Islami pada anak kami.” Keputusan itu bukan tanpa pertimbangan mendalam, mengingat Haikal harus jauh dari keluarga di Samarinda.

Namun, kekhawatiran itu perlahan sirna. Mereka merasakan perhatian para Musyrif dan Ustadz/ah tampak baik dan peduli, yang akhirnya membuat Haikal yang jauh dari keluarga tidak merasa sendiri. Haikal merasa seperti di rumah. Kehangatan dan perhatian tulus dari para pendidik menjadi penawar rindu akan keluarga.

Komunikasi yang terjalin erat juga menjadi kunci ketenangan bagi orang tua Haikal. Komunikasi rutin para pendidik dengan orang tua juga komite terjalin secara intens meski lewat daring. Orang tua selalu mengetahui perkembangan Haikal, baik akademik maupun kepribadiannya, selama di sekolah dan asrama.

Di samping itu, pola hidup dan belajar yang terstruktur di pondok, termasuk asupan makanan bergizi, turut berperan besar. “Semua itu menjadikan Haikal bertumbuh baik secara fisik dan kepribadian, serta memiliki nilai akademik yang memuaskan,” ungkap orang tuanya.

Dari “Manja dan Cengeng” Menjadi “Berani Sendiri”: Transformasi yang Mengguncang Ekspektasi

Bagi sebagian orang, perubahan kecil mungkin dianggap biasa. Namun, bagi keluarga Haikal, hal itu adalah sebuah “keajaiban”. “Mas Haikal saat awal keberangkatan ke Jogja adalah anak yang manja, cengeng, dan sulit bergaul,” kenang beliau. “Tapi, saat perpulangan pertamanya ke Samarinda, kami dibuat kaget.”

Perubahan itu begitu fundamental. “Mas Haikal sudah bisa mencuci piring makannya sendiri, sholat tanpa disuruh, bangun awal pagi, dan lebih mudah menyampaikan pendapat atau pertanyaan,” cerita mereka dengan takjub. Detail-detail sederhana ini menunjukkan kemandirian yang berkembang pesat.

Kejutan tak berhenti sampai di situ. “Di perpulangan berikutnya, kami tak henti-hentinya dibuat kaget,” kata orang tua Haikal, tersenyum lebar. “Mas Haikal dengan semangat dan percaya diri bilang kalau ia berani pulang naik pesawat sendiri, tanpa perlu dititipkan ke awak maskapai” Sebuah keberanian yang melampaui bayangan mereka. “Sejak saat itu, hingga kelas 9 ini, Mas Haikal berani sendiri pulang-pergi Samarinda-Yogyakarta. Ditambah lagi, akhir-akhir ini ia sudah bisa pesan dan jalan sendiri dengan aplikasi ojek online.” Hal-hal kecil yang sebelumnya mustahil, kini menjadi bagian dari keseharian Haikal. “Itu hal yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, sungguh melebihi ekspektasi kami.”

Membentuk Pemimpin dan Kolaborator: Prestasi yang Tak Terukur

“Karakter Mas Haikal itu sangat jauh berbeda sebelum dan sesudah sekolah di Salman,” ucap orang tuanya. Mereka terkesima bagaimana Haikal kini mampu beradaptasi dengan teman-teman yang sebagian besar berasal dari daerah lain, membangun pergaulan yang baik.

Yang paling membuat mereka bangga adalah keterlibatan Haikal dalam berbagai kegiatan di sekolah. “Ia bisa bekerja sama dalam OSIS, bahkan terlibat sebagai Dewan Santri di pondok. Dan yang tak kalah penting, ia berani mengikuti berbagai lomba,” pungkas beliau. Bagi orang tua Haikal, ini adalah prestasi luar biasa yang tak terbayang sebelumnya, jauh melampaui sekadar nilai akademik. Ini adalah bukti nyata terbentuknya pribadi yang berani, bertanggung jawab, dan memiliki jiwa kepemimpinan.

“Terima kasih tak terhingga kepada para Ustadz/ah Pengajar dan Pengelola SMPIT Salman Al Farisi,” ucap orang tua Haikal penuh haru. “Semoga apa yang telah dilakukan menjadi ladang pahala yang terus mengalir. Dan semoga SMPIT Salman Al Farisi dapat semakin sukses dan berjaya. Tetap selalu memberikan yang terbaik untuk para santri.”

Kisah Ahmad Haikal Giffari adalah inspirasi. Sebuah bukti bahwa pendidikan yang dilandasi nilai-nilai Islami, dengan perhatian tulus dari pendidik, mampu mengubah seorang anak menjadi pribadi mandiri, berani, dan berkarakter kuat, siap mengukir masa depan yang gemilang.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *