Sleman, 10 Oktober 2025 – Suasana sejuk dan tantangan alam menjadi saksi perjalanan berharga bagi seluruh siswa/i kelas 6 SDIT Salman Al Farisi 2. Selama dua hari, 9 hingga 10 Oktober 2025, mereka mengikuti Perkemahan Kamis-Jumat yang intensif di Bumi Perkemahan Wukirsari, Cangkringan, Sleman. Agenda ini dirancang sebagai “pembekalan akhir” yang bertujuan untuk membangun dan memperkuat karakter Islami, kemandirian, dan keterampilan sosial mereka sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya.
Latihan Fisik dan Kekompakan Melalui Pioneering dan Yel-Yel
Perkemahan dimulai pada Kamis pagi dengan kedatangan peserta, dilanjutkan dengan kegiatan mendirikan tenda, yang langsung menguji keterampilan kerja sama tim. Setelah itu, mereka langsung disambut oleh Giat Pioneering, di mana mereka belajar teknik ikatan simpul yang merupakan dasar kepramukaan.
Sore harinya, jiwa kepemimpinan dan kekompakan mereka diuji dalam Giat Prestasi Yel-Yel dan Permainan Persaudaraan. Dalam suasana penuh semangat, setiap regu berusaha menampilkan yang terbaik, melatih keberanian dan kemampuan berkomunikasi yang nantinya menjadi bekal penting di bangku SMP.
Api Unggun dan Ibadah Subuh: Keseimbangan Jiwa dan Raga
Malam puncak perkemahan diwarnai kehangatan Api Unggun dan tawa riang dalam Pentas Seni. Momen ini menumbuhkan rasa kebersamaan dan memberikan panggung bagi anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas mereka.
Namun, yang terpenting, spiritualitas tetap menjadi pondasi. Pagi buta, seluruh peserta bangun untuk melaksanakan Ibadah Subuh berjamaah dan Olahraga. Perpaduan kegiatan fisik dan spiritual ini merefleksikan komitmen sekolah dalam membentuk karakter Islami yang utuh.
Jelajah Alam dan Penutupan: Siap Melangkah ke Jenjang Berikutnya
Pada hari terakhir, semangat petualangan kembali membara dalam sesi Jelajah Alam. Kegiatan ini melatih observasi, ketahanan fisik, dan kecintaan pada lingkungan. Perkemahan ditutup dengan Upacara Penutupan yang penuh makna. Setelah dua hari penuh tantangan, para siswa kelas 6 SDIT Salman Al Farisi 2 kembali dengan bekal kemandirian yang lebih matang, jiwa kepemimpinan yang lebih terasah, dan karakter Islami yang lebih kokoh.
