Yogyakarta, 23 Oktober 2025 – Satu hari, dua tujuan yang berbeda bidanf, namun satu visi: menanamkan pengalaman belajar yang tak terlupakan. Seluruh siswa/i Kelas 1 SDIT Salman Al Farisi 2 menjalani Kunjungan Edukasi yang intensif, belajar salah satu kekayaan budaya di Gerabah Kasongan dan kejayaan sejarah di Museum Dirgantara Yogyakarta. Agenda ini dirancang khusus untuk mengaitkan pembelajaran di kelas dengan dunia nyata. Tujuannya adalah memperluas wawasan, melatih keterampilan sosial dan interaksi, serta menumbuhkan rasa ingin tahu dan cinta literasi melalui pengalaman langsung yang menyenangkan.
Sentuhan Kreativitas di Kasongan: Melatih Motorik Halus dan Kasar
Petualangan dimulai di sentra kerajinan Gerabah Kasongan. Di tengah deretan karya seni tanah liat yang memukau, anak-anak tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi seniman cilik. Mereka diajak untuk membuat gerabah dari tanah liat menggunakan cetakan khusus. Momen ini adalah latihan motorik terbaik: tangan-tangan mungil itu harus telaten membentuk gumpalan tanah liat, memukul-mukulnya agar pas dengan cetakan, dan membentuknya menjadi karya. Tanah liat yang dingin dan lembut menjadi media bagi mereka untuk mengekspresikan kreativitas, mengajarkan kesabaran, dan mengubah bahan sederhana menjadi sesuatu yang bernilai.
Membumbung Tinggi di Museum Dirgantara: Merenungkan Sejarah dan Pengabdian
Setelah selesai berkarya dengan tanah, perjalanan berlanjut menuju langit dan sejarah di Museum Dirgantara Yogyakarta. Suasana seketika berubah, dari sentra seni tradisional menjadi pusat kejayaan militer dan kedirgantaraan Indonesia. Di sini, anak-anak disuguhkan koleksi bersejarah TNI Angkatan Udara yang mengagumkan. Mereka melihat langsung berbagai jenis pesawat tempur, rudal, senjata udara, dan replika diorama peristiwa bersejarah. Perhatian mereka juga tertuju pada benda-benda ikonik seperti pakaian dinas mantan Kepala Staf Angkatan Udara dan tandu yang pernah digunakan Jenderal Sudirman.
Kunjungan ini memberikan pengalaman langsung tentang fakta-fakta sejarah, menumbuhkan rasa bangga terhadap bangsa, dan mengenalkan mereka pada profesi mulia para pahlawan udara yang mengabdi pada negeri. Kunjungan edukasi ganda ini sukses menciptakan pengalaman belajar yang holistik. Di Gerabah Kasongan, anak-anak belajar tentang kesederhanaan dan keterampilan tangan. Di Museum Dirgantara, mereka belajar tentang ketangguhan, pengabdian, dan sejarah.
Siswa Kelas 1 SDIT Salman Al Farisi 2 kembali ke sekolah dengan wawasan yang luas, kemampuan motorik yang terasah, dan jiwa yang penuh inspirasi. Inilah komitmen Salman Al Farisi dalam membentuk generasi Qurani Berprestasi—yang tanggap pada seni dan budaya, sekaligus teguh pada sejarah bangsanya.
