Sleman, 15 November 2025 – Seluruh area SDIT Salman Al Farisi 2 berubah menjadi panggung kebesaran Indonesia, dipenuhi sorak sorai dan decak kagum. Dalam suasana meriah, Pentas Seni SDIT Salman Al Farisi 2025 dengan tema “Jelajah Budaya Nusantara” sukses memukau seluruh wali murid dan siswa/i dari kelas 1 hingga 6. Acara ini bukan sekadar pementasan biasa, melainkan sarana edukatif untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya bangsa dan semangat untuk terus belajar serta berkarya, semuanya diselaraskan dengan nilai-nilai luhur Islam yang dijunjung tinggi.
Dibuka Sang Juara: Dari Panggung Ngemplak ke Panggung Sekolah
Kegiatan dibuka secara simbolis dengan pemukulan gong oleh Ibu Sri Maryati, S.Pd.Ina, Koordinator Wilayah Ngemplak. Gong yang berbunyi nyaring itu menandakan dimulainya perjalanan budaya yang luar biasa. Sebagai Grand Opening, panggung langsung diguncang oleh penampilan memukau Tari Dayak yang dibawakan oleh siswa/i kelas 6. Tarian ini semakin spesial karena merupakan penampilan yang sukses mengantar mereka meraih Juara 2 Pensi Jambore se-Kapanewon Ngemplak. Semangat juara ini menjadi penyemangat bagi adik-adik kelas mereka.
Perjalanan Penuh Makna: Ketaatan, Cinta, dan Nasionalisme
Setelah pembukaan, perjalanan budaya pun dimulai, membawa penonton menjelajah dari ujung barat hingga timur Indonesia:
-
Ketaatan dan Dakwah: Kelas 1A Ibnu Amajur membawakan Tari Saman dari Aceh, sebuah tarian yang melambangkan ketaatan dan kepatuhan kepada Allah. Dilanjutkan oleh Kelas 1C Ar Razi dengan Tari Dindin Badindin dari Sumatera Barat yang memiliki sejarah sebagai media penyebaran agama Islam pada abad ke-13.
-
Keceriaan dan Nasionalisme: Kelas 2B Ibnu Sina menampilkan kombinasi apik Tari Cing Cakeling dan Manuk Dadali dari Jawa Barat, yang menggambarkan keceriaan masyarakat Sunda sekaligus semangat nasionalisme.
-
Kearifan Budaya: Siswa kelas 1B Al Farisi menghadirkan keindahan pulau yang dijuluki ‘heaven on earth’ lewat Tari Kecak Bali. Sementara itu, Kelas 2A Ibnu Rusyd menampilkan Tarian Khas Jawa Timur yang penuh dinamika.
Panggung semakin hangat ketika Kelas 3A Ibnu Sahl dari Sulawesi menyajikan kombinasi indah Tari Anging Mamiri, Mapadendang, dan Si Patokaan, yang kesemuanya memiliki makna inti yang sama: cinta—cinta tanah kelahiran dan kasih sayang seorang ibu.
Pesan Moral di Balik Permainan Tradisional dan Bela Diri
Salah satu penampilan yang paling ditunggu adalah gabungan antara seni dan pelajaran moral. Kelas 3C Al Farabi membawakan Drama Musikal & Tari dari permainan tradisional Cublak-Cublak Suweng & Ancak-Ancak Alis. Drama ini secara apik mengajak penonton untuk kembali mengenang permainan masa lalu yang sarat nilai kejujuran, kerja sama, dan semangat mencari makna hidup.
Nilai kemandirian dan keterampilan hidup juga diangkat. Kelas 5A Al Birruni memperkenalkan Silat sebagai cabang beladiri Betawi melalui Drama Musikal Betawi yang cerdas dan menghibur. Tak ketinggalan, nilai birrul walidain disisipkan dalam Tari Indung-Indung yang diiringi Storytelling Legenda Batu Menangis dari Kalimantan Timur.
Jejak Timur yang Menggugah Semangat
Menjelang akhir, panggung bergeser ke Indonesia Timur yang kaya akan semangat:
-
Kelas 4A Al Battani menampilkan Tari Tide-Tide Halmahera Utara, tarian yang terkenal dengan makna keselarasan kehidupan sosial dan mempererat hubungan antarwarga.
-
Kelas 4B Ibnu Saffar membawakan Tari Tifa dan Tari Caci, tarian sukacita menyambut masa panen dan sebagai ungkapan rasa syukur.
-
Pentas ditutup dengan semangat keberanian dan kebersamaan melalui Tari Kombinasi Papua oleh Kelas 5B Ibnu Nafis.
Pentas Seni “Jelajah Budaya Nusantara” ini sukses menjadi bukti komitmen SDIT Salman Al Farisi 2 dalam membentuk generasi yang Qurani Berprestasi—yaitu generasi yang tidak hanya taat pada Allah, tetapi juga mencintai dan melestarikan budaya bangsanya.
