Yogyakarta, 23 Oktober 2025 – Sebagai bekal akhir sebelum melangkah ke jenjang SMP, seluruh siswa/i Kelas 6 SDIT Salman Al Farisi 2 menjalani Kunjungan Edukasi yang sarat makna sejarah dan budaya. Perjalanan kali ini membawa mereka menelusuri alur waktu perjuangan di Diorama Arsip Jogja (Museum Arsip Yogyakarta) dan meresapi keagungan budaya di Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Agenda ini dirancang untuk mengaitkan pembelajaran di kelas dengan dunia nyata, khususnya pelajaran IPS dan Sejarah. Tujuannya adalah memperluas wawasan dan pengetahuan baru, melatih keterampilan sosial dan interaksi, serta menumbuhkan rasa ingin tahu dan cinta literasi melalui pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.
Melacak Jejak Sejarah di Diorama Arsip Jogja yang Modern dan Interaktif
Kunjungan dimulai di Diorama Arsip Jogja, sebuah museum sejarah modern yang dikelola oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY. Museum ini menawarkan cara yang unik dan tidak membosankan untuk mempelajari sejarah. Anak-anak diajak mengikuti perjalanan sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta selama kurang lebih empat abad, mulai dari era Mataram hingga status Keistimewaan DIY. Museum ini sukses memadukan arsip, seni, dan teknologi modern seperti Diorama, Hologram, Augmented Reality (AR), dan audiovisual interaktif yang tersebar dalam 18 ruangan tematik. Pengalaman ini memberikan pemahaman mendalam tentang akar sejarah, peran para pemimpin, dan proses terbentuknya DIY, sekaligus menunjukkan bahwa sejarah bisa dipelajari dengan cara yang modern dan interaktif sehingga tidak membosankan.
Intisari Kebudayaan di Keraton Yogyakarta Hadiningrat
Setelah melacak sejarah modern, perjalanan dilanjutkan ke pusat budaya Jawa: Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Keraton bukan hanya istana resmi Sultan, tetapi juga adalah jantung kebudayaan Jawa yang sangat kaya. Anak-anak berkesempatan melihat langsung arsitektur tradisional yang megah dan mempelajari sejarah para Sultan serta peran pentingnya bagi masyarakat. Mereka menyaksikan berbagai koleksi benda-benda bersejarah dan artefak budaya seperti alat musik Gamelan, pusaka, dan kereta kencana. Kunjungan ini dipandu langsung oleh petugas Keraton yang dengan apik dan menarik menjelaskan setiap detail. Interaksi dengan petugas ini menumbuhkan rasa hormat dan menghargai warisan leluhur. Anak-anak belajar bahwa Keraton adalah simbol kearifan lokal, keteladanan, dan komitmen untuk menjaga nilai-nilai luhur.
Kunjungan Edukasi Kelas 6 SDIT Salman Al Farisi 2 ini sukses menyajikan perpaduan antara teknologi modern dalam penyampaian sejarah dan keagungan tradisi. Anak-anak Kelas 6 pulang dengan pemahaman yang lebih dalam tentang jati diri bangsa, siap melangkah ke jenjang pendidikan selanjutnya sebagai generasi Qurani Berprestasi yang menghargai sejarah, mencintai budaya, dan siap menjadi pemimpin masa depan.
