Website SAF jogja

Belajar dengan Hati: KB-TKIT Salman Al Farisi 2 Selenggarakan Manasik Haji Penuh Makna

Sleman, 11 September 2025 – Pemandangan berbeda menyambut hari Kamis, 11 September 2025, di Masjid Al Iman, Klebengan. Seluruh siswa KB-TKIT Salman Al Farisi 2 tampak berseri-seri dalam balutan kostum putih-putih, siap mengikuti sebuah simulasi perjalanan spiritual yang tak terlupakan. Mereka tidak sekadar bermain peran, melainkan menjalani Manasik Haji Cilik, sebuah agenda tahunan yang dirancang untuk menanamkan rukun Islam kelima dengan cara yang menyenangkan sejak usia dini.

Manasik haji ini adalah salah satu agenda khas sekolah yang bertujuan mulia. Melalui simulasi ini, anak-anak diajarkan untuk memahami urutan ibadah sekaligus menanamkan nilai-nilai luhur seperti kesabaran, kedisiplinan, dan kebersamaan. Lebih dari itu, kegiatan ini adalah cara untuk mengenalkan esensi ibadah haji, sehingga kelak, impian untuk benar-benar menginjakkan kaki di Baitullah akan tumbuh subur di dalam hati mereka.

Menggali Makna Ibadah dalam Sebuah Petualangan

Perjalanan manasik dimulai dengan penuh semangat. Dengan wajah polos yang antusias, anak-anak memakai pakaian putih-putih sebagai penanda pakaian ihram. Mereka kemudian mengumandangkan talbiyah yang menggema, menciptakan suasana yang khidmat dan menenangkan.

Setiap rukun ibadah haji disimulasikan sebagai sebuah petualangan yang sarat makna. Anak-anak diajak merasakan simulasi wukuf di Arafah, yang mengajarkan tentang pentingnya berdoa dan merenung. Kemudian, mereka melanjutkan dengan simulasi mabit (bermalam) di Muzdalifah dan Mina, yang melatih fisik dan mental. Salah satu momen yang paling dinantikan adalah melempar jumrah, di mana mereka dengan gembira melempar batu kecil, seolah sedang melempar segala sifat buruk dan godaan dari diri mereka.

Tentu saja, inti dari perjalanan ini adalah tawaf dan sa’i. Anak-anak mengelilingi replika Ka’bah, lalu berlari-lari kecil di antara replika bukit Safa dan Marwah. Gerakan-gerakan ini bukan hanya meniru ritual, tetapi juga menanamkan kebanggaan dan cinta pada ibadah. Rangkaian ibadah ini diakhiri dengan tahalul dan merasakan segarnya minum air zam-zam, sebuah ritual yang melambangkan penyucian diri.

Acara ini berhasil menorehkan kesan mendalam. Anak-anak pulang dengan pengetahuan baru, pengalaman berharga, dan hati yang lebih dekat dengan Al-Qur’an. Melalui manasik haji, KB-TKIT Salman Al Farisi 2 membuktikan bahwa mendidik anak tentang agama bisa dilakukan dengan cara yang gembira dan penuh cinta.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *