Website SAF jogja

Berita

Dibalik Gelar S2 UGM dan Tangis Anak: Kisah Ibu Tangguh Membimbing Wafa Menjadi Hafizah Berprestasi di SDIT Salman Al Farisi

Di tengah hiruk pikuk persiapan ujian tugas akhir dan kegiatan perkuliahan yang padat di UGM, seorang ibu bernama Nikmah Abu Sama, ST., M.URP., membagikan sekelumit kisahnya. Sebuah kisah tentang perjuangan, keikhlasan, dan keberkahan dalam mendampingi sang putri, Wafa Thahirah, meniti jalan pendidikan dan hafalan Al-Qur’an, terutama setelah keduanya memutuskan hijrah ke Kota Gudeg ini dan bergabung dengan keluarga besar SDIT Salman Al Farisi. “Rasanya semua masih seperti kemarin,” kenang Ibu, memulai kisahnya. “Agustus 2022, adalah bulan krusial bagi kami. Saat itu, Wafa masih duduk di kelas IV semester 2 ketika kami memutuskan Wafa pindah sekolah ke SDIT Salman Al Farisi.” Wafa menjalani tes masuk yang meliputi baca Al-Qur’an dan beberapa mata pelajaran, diuji langsung oleh Ibu Azizah. “Alhamdulillah, Wafa dinyatakan diterima, dan kebetulan sekali Ibu Azizah juga yang menjadi wali kelas IV-nya saat itu. Ibu Azizah ini masyaAllah, sangat lembut dan pandai membujuk anak-anak,” lanjut Ibu. Adaptasi Penuh Drama dan Kelembutan Guru Masa adaptasi Wafa di sekolah baru bukan tanpa tantangan. Wafa, seorang anak yang senang bercerita namun mudah minder, menunjukkan kecemasannya di awal. “Saya ingat betul, suatu pagi kami sudah sampai sekolah, anak-anak sudah berbaris. Tiba-tiba Wafa menangis, tidak mau masuk. Katanya, ‘Ade malu, Ummi, Ade diliatin kalau terlambat.’ Padahal belum terlambat, tapi dia tetap kekeh ingin pulang. Sampai Ibu Azizah turun tangan langsung membujuknya. Alhamdulillah, teratasi,”. Pengalaman itu membentuk kebiasaan Wafa yang kini paling takut terlambat, bahkan seringkali tiba di sekolah saat belum ada siapa-siapa. Keputusan Wafa pindah ke Jogja semata-mata untuk ikut sang ibu yang kala itu melanjutkan studi S2 di UGM. Awalnya, Ibu meninggalkan Wafa bersama kakek neneknya di Bacan, Halmahera Selatan, agar Ibu bisa fokus kuliah. Tapi, begitu tahu Wafa sering sakit kalau ditinggal Ibu, hati Ibu menjadi tidak tenang sehingga beliau putuskan untuk membawanya Wafa untuk ikut ke Jogja. Adaptasi Wafa di lingkungan baru menuntut pendampingan ekstra. Ibu harus pandai membagi waktu antara tugas kuliah dan belajar bersama putrinya. “Gurunya memberi tahu bahwa Wafa harus mengejar beberapa mata pelajaran yang tertinggal di semester 1 dan mempersiapkan pelajaran di semester 2 kelas IV. Yang paling menantang adalah hafalan Qur’annya yang harus dimulai dari awal lagi di Salman, karena metodenya berbeda,” tambahnya. Prinsip Memuliakan Penghafal Al-Qur’an: Dedikasi Ibu di Tengah Kesibukan S2 “Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik, walau ada asam garamnya,” tutur Ibu. Dengan prinsip ‘memuliakan penghafal Qur’an InsyaAllah segalanya akan Allah mudahkan,’ beliau mulai membagi waktu dengan semaksimal mungkin, selalu mendahulukan kebutuhan Wafa. Sebelum pindah, Wafa memang sudah memiliki hafalan 10 juz, dimulai dari Juz 30 lalu ke Juz 1, bahkan di usia 3,5 tahun sudah hafal 2 juz. Kata guru ngajinya dulu, Wafa dan kakaknya termasuk anak yang cepat menghafal. “Sejak saat itu, saya makin konsen dengan hafalan anak-anak. Karena bagi saya, harta saya yang paling berharga adalah mereka dan Qur’an yang ada dalam diri mereka,” ucap Ibu penuh haru. Kesungguhan sang ibu dalam membina Wafa di tengah kesibukan kuliah S2 patut diacungi jempol. Ketakutan akan luntur hafalan lama Wafa menjadi perhatian utama. Bersama Wafa, serangkaian jadwal ketat disepakati: sholat 5 waktu, Tahajud, belajar, dan larangan memegang HP kecuali akhir pekan. Rutinitas murojaah Wafa tetap berjalan setelah Magrib hingga Isya, kebiasaan yang sudah diterapkan sejak Wafa dan kakaknya berusia 3,5 dan 5 tahun. Ini adalah fondasi istiqomah menghafal Al-Qur’an yang ditanamkan Ibu sejak dini. Selama di Jogja, Wafa juga diikutsertakan dalam program One Day One Juz untuk menjaga hafalan sebelumnya. “Untuk hafalan di sekolah, setiap Subuh Wafa harus setor 2 sampai 3 ayat, kadang lebih, kepada saya sebelum berangkat sekolah. Jadi, saat setoran hafalan di sekolah, dia sudah lancar. Setoran di rumah lebih banyak dari di sekolah, di sekolah tinggal diperbaiki lafaznya dan lancar setorannya,” jelas Ibu. Rutinitas ini dijaga dengan penuh komitmen, bahkan setiap ujian kenaikan juz, Ibu selalu memberikan hadiah sesuai permintaan Wafa, seperti jalan-jalan atau buku baru, sebagai motivasi. Dukungan Penuh dari SDIT Salman Al Farisi dan Kisah Masa Lalu Tentu saja, perjalanan ini tidak lepas dari “drama” khas anak-anak. “Kadang Wafa merajuk, menangis, marah, dan mengeluh capek,” aku Ibu. Di saat-saat seperti itu, ia selalu mengingatkan putrinya, “Ummi dan Ade ke sini kan untuk belajar. Kalau mau main, kenapa jauh-jauh ke Jogja? Di daerah juga bisa main. Tapi tujuan Ade dan Ummi kan bukan itu. Semua orang juga capek, tapi kalau Ade capek dalam ibadah, InsyaAllah tidak ada yang sia-sia. Ade akan lebih bahagia dari apa yang Ade impikan, Allah akan beri yang lebih dari itu. Apalagi kalau Ade selalu murojaah, karena Ummi 1×24 jam tidak selalu bersama Ade, Allah lah yang terus bersama Ade, dan Al-Qur’an yang akan selalu menjaga Ade sampai Ade dewasa.” Perlahan, Wafa mulai mengerti. Kadang, justru Wafa yang membangunkan Ibunya untuk setor hafalan sebelum sekolah jika Ibunya ketiduran karena lembur tugas. “Campur aduk rasanya, Mbak. Di satu sisi capek survei tugas, balik ke kontrakan langsung berhadapan dengan tugas sekolah anak. Namanya manusia, ada marah, sedih, dan bahagia. Ada titik di mana saya hanya bisa memohon, ‘Allah, Allah, Allah, jangan jauh-jauh dari saya,’” Ibu mengungkapkan perasaannya. Alhamdulillah, kepindahan Wafa ke Jogja dan sekolah di Salman membawa peningkatan prestasi yang signifikan. Ia terpilih ikut MTQ Nasional tingkat SD, menyelesaikan tahsin metode Qiroati dan wisuda pada 26 November 2022 di awal masuk kelas 4. Wafa juga meraih juara 1 MHQ tingkat kecamatan dan juara 3 MTQ tingkat kabupaten. Sampai ketika wisuda kemarin, Wafa menjadi peraih hafalan tertinggi dengan total 4 juz hafalan selama belajar di SDIT Salman Al Farisi. Peran SDIT Salman Al Farisi dalam mendampingi dan mendukung hafalan Qur’an Wafa tidak bisa dipandang sebelah mata. “Semua itu tidak terlepas dari bimbingan guru-guru hebat di Salman,” tegas Ibu. Ia menyebutkan Ibu Dwi, Ibu Iir, Ibu Azizah, Bapak Irwan, dan banyak guru lainnya yang berperan besar. “Jasa mereka tidak dapat dibalas dengan bentuk apapun, selain Allah lah pembalas semua kebaikan mereka. Berkah ilmu semoga sampai ke keluarga para guru-guru di SDIT Salman Al Farisi.” Dari Sudut Pandang Wafa: Dorongan Kompetisi dan Dukungan Tiada Henti Wafa sendiri, dengan polosnya mengakui bagaimana dorongan dari lingkungan barunya memacunya. “Sebenarnya, sebelum saya masuk Salman, saya sudah punya hafalan 10 juz, tapi mulainya

Dibalik Gelar S2 UGM dan Tangis Anak: Kisah Ibu Tangguh Membimbing Wafa Menjadi Hafizah Berprestasi di SDIT Salman Al Farisi Read More »

Tingkatkan Kualitas Pembelajaran Al-Qur’an, Yayasan Salman Al Farisi Gelar Upgrading Guru Penuh Makna

Depok, 1 Juli 2025 – Dalam upaya berkelanjutan untuk menghadirkan pendidikan Al-Qur’an yang unggul dan membentuk generasi Qurani berkarakter, Yayasan Salman Al Farisi menyelenggarakan kegiatan Upgrading Guru Al-Qur’an yang penuh makna pada tanggal 1 Juli 2025. Bertempat di SDIT Salman Al Farisi 2, acara ini diikuti oleh seluruh guru Al-Qur’an dari lembaga SD dan SMP Yayasan Salman Al Farisi untuk meningkatkan kapasitas para pengajar demi pembelajaran Al-Qur’an yang lebih berkualitas di semester depan. Acara dibuka dengan sesi penyampaian harapan yang menginspirasi, menciptakan atmosfer positif bagi seluruh peserta. Ibu Dwi Ningsih, Koordinator Tahta (Tahsin Tahfizh) SDIT Salman Al Farisi 1, menyampaikan harapannya agar tim guru Al-Qur’an dapat semakin solid, rukun, tertib, dan bersemangat dalam mengajar. Senada dengan itu, Ibu Siti, Koordinator Tahta SDIT Salman Al Farisi 2, memberikan penekanan mendalam pada urgensi menjadi guru yang shalih dan shalihah. “Untuk menshalihkan anak harus dimulai dari diri dulu,” ujarnya, mengingatkan pentingnya teladan dari pengajar. Beliau juga mendorong para guru untuk terus belajar, berkembang, dan bertumbuh bersama siswa-siswi, sejalan dengan semangat pendidikan progresif. Membangun Sinergi Tim Melalui Refleksi dan Kolaborasi Efektif Sesi pertama upgrading diisi oleh Galang Rambu Amarkhi, M.Psi., Psikolog, yang membawakan materi menarik bertajuk “Komunikasi Tim Efektif – Membangun Sinergi Melalui Kolaborasi”. Dalam sesi interaktif ini, para guru diajak untuk melakukan refleksi mendalam terhadap praktik mengajar yang telah dilakukan, mengevaluasi capaian, serta merumuskan tujuan dan langkah konkret untuk semester depan. Diskusi ini tidak hanya berfokus pada individu, tetapi juga pada bagaimana setiap kontribusi dapat menyatu dalam visi bersama. Pembelajaran mengenai growth mindset versus fixed mindset menjadi poin penting yang dibahas, memotivasi guru untuk selalu melihat tantangan sebagai peluang berharga untuk bertumbuh dan berinovasi. Psikolog Galang juga memfasilitasi sesi problem mapping yang sangat efektif, di mana guru-guru secara bersama-sama memetakan masalah seputar kerja tim antar guru Al-Qur’an dan merumuskan solusi konkret yang dapat diterapkan. Beliau menekankan bahwa hal paling fundamental dalam membangun tim yang kuat adalah kesadaran dan tanggung jawab setiap individu terhadap peran dan kontribusinya. Sebuah kutipan inspiratif dari Psikolog Galang Rambu Amarkhi turut menjadi perenungan mendalam bagi seluruh peserta: “Saya pernah melihat langsung sekolah-sekolah elite non-Islam di Jogja, dari situ saya belajar bahwa ternyata yang membuat kita susah maju dibandingkan mereka adalah kita masih besar egonya—selalu mementingkan diri sendiri; sedangkan mereka sudah berorientasi pada kemajuan dan penyatuan frekuensi terhadap visi misi sekolah yang dibawanya.” Kutipan ini secara lugas menumbuhkan kesadaran akan pentingnya ego yang lebih kecil dan visi yang lebih besar, mendorong semangat kebersamaan dan orientasi pada kemajuan kolektif. Dari Huruf ke Hati: Menjadi Teladan dalam Mengukir Manusia Qurani Sesi kedua, yang tak kalah penting, disampaikan oleh Ustadz M. A. Sholihun dengan materi yang menyentuh hati: “Dari Huruf ke Hati: Peran Guru Al-Qur’an dalam Membentuk Manusia Qurani”. Ustadz Sholihun dengan lugas menekankan bahwa guru Al-Qur’an memiliki peran yang sangat mulia sebagai pengajar ayat-ayat Allah, sehingga wajib menjadi qudwah (teladan) yang baik dalam setiap aspek kehidupan bagi para murid. Teladan ini, menurut beliau, adalah kunci utama dalam membentuk karakter Qurani. Beliau juga menyoroti pentingnya mulazamah (berinteraksi langsung dan terus-menerus dengan guru) untuk proses musyafahah (belajar langsung dari lisan guru). “Murid itu akan meniru apa yang diucapkan dan dicontohkan oleh gurunya,” tegas Ustadz Sholihun, menggarisbawahi kekuatan role model dalam pembelajaran Al-Qur’an. Poin krusial lainnya yang disampaikan adalah pentingnya kepercayaan (tsiqah) guru kepada murid. “Guru perlu percaya kepada murid bahwa murid itu akan mampu, jangan meragukan murid,” pesan Ustadz Sholihun, sebuah pesan yang sangat memotivasi dan menumbuhkan keyakinan pada potensi tak terbatas setiap anak didik. Keyakinan ini akan memicu semangat belajar siswa dan menyingkirkan keraguan yang mungkin menghambat mereka. Secara keseluruhan, Upgrading Guru Al-Qur’an ini berhasil tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis dan metodologi mengajar para pengajar, tetapi juga menguatkan sinergi tim serta menumbuhkan kesadaran mendalam akan peran strategis mereka dalam membentuk generasi Qurani yang berakhlak mulia dan berwawasan luas. Dengan semangat baru, ilmu yang bertambah, dan komitmen yang semakin kokoh, guru-guru Al-Qur’an Yayasan Salman Al Farisi siap memberikan yang terbaik di semester depan, mengukir jejak kebaikan dari huruf-huruf Al-Qur’an hingga ke kedalaman hati setiap siswa.

Tingkatkan Kualitas Pembelajaran Al-Qur’an, Yayasan Salman Al Farisi Gelar Upgrading Guru Penuh Makna Read More »

9 Tahun Penuh Arti: Yukio dan Jejak Kebahagiaan di Salman Al Farisi | #CeritaSalman

Mari dengarkan kisah Ibu Tien Amry Astuti dan Bapak Suparjan, orang tua dari Yukio. Dulu, pada tahun 2016, setelah survei ke beberapa SDIT di Jogja, hati mereka akhirnya mantap memilih SDIT Salman Al Farisi 1 di Pogungrejo, Mlati. Sebuah keputusan yang tak henti mereka syukuri. Fondasi Kuat dari Pendidikan Dasar Selama bersekolah SDIT Salman Al Farisi, Yukio mendapatkan bimbingan yang luar biasa. Ibu Tien dan Bapak Suparjan melihat bagaimana putra mereka tidak hanya cemerlang di bidang akademis, tetapi juga aktif dalam kegiatan intrakurikuler yang setara dengan sekolah lain, juga didikukung dengan beragam ekstrakurikuler menarik. Salah satu yang paling membanggakan adalah program tahfidz, yang akhirnya menuntun keluarga mereka untuk melangkah ke jenjang SMPIT Salman Al Farisi Boarding School. Mereka bercerita, bahkan di masa pandemi, proses pembelajaran di Salman Al Farisi terbukti sangat efektif. Pembelajaran via Zoom, tugas melalui Google Classroom, bahkan ekstra tahfidz dan ujian tahfidz secara daring pun tetap berjalan. Ini menguatkan keyakinan mereka bahwa di kondisi normal pasca pandemi, pembelajaran pasti akan lebih efektif lagi. Apalagi, pikir mereka, SMPIT Salman Al Farisi berada dalam satu manajemen dengan SDIT-nya yang tentu dapat menjamin konsistensi kebijakan yang diterapkan. Kasih Sayang Guru: Pilar Pembentukan Karakter Bukan hanya kurikulum, Ibu Tien dan Bapak Suparjan sangat terkesan dengan guru-guru di SD yang membimbing anak-anak layaknya keluarga di rumah: penuh kasih sayang, lembut, dan perhatian yang lebih dari cukup. Model “among momong” ini menjadi pertimbangan utama mereka dalam memilih SMP, di samping harapan agar Yukio dapat melanjutkan hafalannya. Mereka yakin, sentuhan kasih sayang ini akan terus membentuk karakter Yukio. Alhamdulillah, segala yang mereka bayangkan benar-benar terjadi di SMPIT Salman Al Farisi Boarding School! Yukio mendapat bimbingan dan didikan yang penuh kasih sayang, baik di sekolah maupun di asrama. Ibu Tien bercerita sambil menahan haru, bagaimana di lima hari pertama saat Yukio sakit dan beradaptasi, Ustadz Faizin dan para musyrif lain dengan penuh kasih sayang mendampingi, membimbing, dan menguatkan Yukio untuk meraih cita-cita mulianya: memberikan mahkota surga kepada ayah dan ibu kelak. Buah Manis Prestasi Akademik, Tahfidz, dan Karakter Didikan akademis di sekolah turut menghasilkan prestasi yang membanggakan. Yukio lulus dengan total Nilai Gabungan ASPD dan Nilai Rapor 312,9. Ini adalah kebanggaan besar bagi mereka. Lebih istimewa lagi, melalui program takhassus tahfidz di kelas 8, Yukio berhasil menyetorkan hafalan Al-Qur’an sebanyak 30 juz. Betapa bangganya Ibu Tien dan Bapak Suparjan telah menjadi bagian dari SMPIT Salman Al Farisi. Mereka melihat perubahan signifikan pada diri Yukio. Sikapnya yang lembut kepada Ibu Tien, melindungi kakak perempuannya, serta hormat kepada ayah, kakek, paman, dan om, semuanya adalah hasil tempaan selama berada di asrama putra SMPIT Salman Al Farisi. Masya Allah, Yukio yang menurut orang tuanya dahulu cenderung manja dan bossy sebagai bungsu kini jauh lebih baik. Kenangan Tak Terlupakan dari Kehidupan Asrama Saat Yukio pulang, selalu ada cerita lucu tentang ibu dapur yang sigap memberikan lauk pengganti, tentang serunya kegiatan di asrama seperti bermain sepak bola dengan musyrif, ekstrakurikuler yang menyenangkan, serta pendampingan belajar intensif jelang asesmen dan ASPD. Pengalaman-pengalaman ini, kata Ibu Tien dan Bapak Suparjan, tidak akan pernah Yukio alami di luar asrama. Tak heran, Yukio bahkan sempat bergumam, “Seandainya di Salman ada SMA, aku pasti lanjut di Salman Al Farisi.” Ibu Tien dan Bapak Suparjan tak henti bersyukur. Mereka merasa SMPIT Salman Al Farisi telah melaksanakan tugasnya dengan sempurna, membekali Yukio ilmu dunia dan akhirat, serta menghasilkan generasi Qur’ani yang sholih dan menginspirasi. Allahu Akbar! Capaian ASPD Yukio yang bahkan lebih unggul dari teman-teman SMP negeri, tentu juga berkat pendampingan profesional dari Lembaga Bimbingan Belajar Salman Al Farisi (LBB SAF) dan program unggulan tahfidz takhassus. Doa dan Harapan untuk Salman Al Farisi Mereka senantiasa berdoa agar hal-hal baik yang diceritakan Yukio akan semakin baik. Mereka berharap pendampingan ASPD semakin intensif, pendidikan karakter di asrama semakin menunjukkan akhlak terpuji, dan pantauan terhadap celah kenakalan kecil dapat lebih diperketat. Layanan kesehatan juga diharapkan terus ditingkatkan. Doa terbesar mereka adalah semoga SMAIT Salman Al Farisi segera terwujud, dan banyak orang tua berharap dapat mempercayakan pendidikan anaknya di sana. Terakhir, Ibu Tien dan Bapak Suparjan mengucapkan terima kasih dan “jazakumullah khairan katsira” kepada Kepala Sekolah, ustadz/ustadzah, para musyrif, ibu dapur, dan tim teknis. Mereka berharap Allah mencatat semua dedikasi ini sebagai amal shalih yang berbalas surga. (Diolah dari hasil penuturan Ibu Tien Amry Astuti & Bapak Suparjan, Orang tua Yukio Fayyadh Izazzaqi, alumnus SDIT Salman Al Farisi 1 2022, dan SMPIT Salman Al Farisi Boarding School 2025)

9 Tahun Penuh Arti: Yukio dan Jejak Kebahagiaan di Salman Al Farisi | #CeritaSalman Read More »