Website SAF jogja

Berita

Belajar Hidup Mandiri di Alam Terbuka: Penggalang SDIT Salman Al Farisi Sukses Gelar Perjusa 2025

Yogyakarta – Gelak tawa riang dan sorak-sorai semangat pramuka menyelimuti suasana Jogja Expotarium. Pada tanggal 19 hingga 20 September 2025 lalu, selama dua hari satu malam, puluhan anggota Penggalang SDPIT Salman Al Farisi mengikuti agenda Perjusa (Perkemahan Jumat-Sabtu) yang merupakan agenda rutin tahunan sekolah yang bertujuan untuk menumbuhkan keimanan melalui agenda alam sekaligus melatih kemandirian, kekompakan, dan jiwa kepemimpinan siswa/i di alam terbuka. Dari Mendirikan Tenda Hingga Pentas Seni Api Unggun Perjalanan dimulai pada Jumat pagi dengan apel pembukaan yang khidmat, dipimpin oleh Kak Luky (read: Bu Luky) selaku kepala sekolah SDIT Salman Al Farisi. Setelah apel, para siswa segera diarahkan untuk mendirikan tenda per regu, belajar bekerja sama dan membagi tugas dengan efisien. Momen ini menjadi pelajaran pertama tentang tanggung jawab dan kerja tim, sebab ketua regu perlu cermat melakukan pembagian tugas untuk anggotanya untuk mendirikan tenda, mengecek barang bawaan, serta memasak untuk makan siang dan makan malam. Lepas Ishoma (Istirahat, Sholat, Makan), semangat mereka kembali membara untuk mengikuti berbagai materi yang menantang. Mereka dilatih PBB (Peraturan Baris-Berbaris) oleh kakak dari POLDA dan belajar komunikasi rahasia melalui materi semaphore oleh Kak Nawang. Saat sore hari, mereka diajak mengasah kreativitas dan keterampilan teknis dalam pionering, berlatih membuat konstruksi dari tali dan tongkat bersama Kak Teguh dan Kak Andri . Malam harinya, suasana berubah menjadi hangat dan meriah. Setelah makan malam, seluruh peserta berkumpul untuk melaksanakan upacara api unggun yang dipimpin kembali oleh Kak Luky. Suasana semakin semarak dengan penampilan pentas seni dari setiap regu, mulai dari menari, menyanyi, hingga drama dan pantomim. Puncak dari malam itu adalah agenda giat malam, di mana mereka berpetualang di sekitar area, memecahkan sandi, dan menjawab pertanyaan di setiap pos yang telah disiapkan. Kegiatan ini menguji keberanian, kekompakan, dan pemahaman mereka tentang dasa dharma dan rukun islam. Mengukir Kenangan dan Pengetahuan Baru Pada hari kedua, sebelum fajar menyingsing, mereka bangun untuk melaksanakan qiyamullail dan salat subuh berjamaah. Setelah sarapan pagi bersama, para penggalang dengan sigap merobohkan tenda dan merapikan barang bawaan, menunjukkan kemandirian dan tanggung jawab yang telah mereka pelajari. Agenda Perjusa ditutup dengan acara kunjungan edukatif ke seluruh area Jogja Exotarium. Didampingi oleh guide, mereka menjelajahi kebun binatang, belajar tentang berbagai jenis hewan dan ekosistemnya. Ini adalah cara yang sempurna untuk mengakhiri perkemahan, menggabungkan pendidikan spiritual dan karakter dengan ilmu pengetahuan alam. Perjusa 2025 bukan hanya sekadar acara kemah, tetapi sebuah pengalaman berharga yang menanamkan nilai-nilai luhur kepramukaan. Para siswa pulang dengan cerita dan kenangan baru, siap untuk mengaplikasikan ilmu dan kemandirian yang mereka dapatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Belajar Hidup Mandiri di Alam Terbuka: Penggalang SDIT Salman Al Farisi Sukses Gelar Perjusa 2025 Read More »

Petualangan di Dapur Burger: Siswa Salman Al Farisi Belajar tentang Makanan Halal dari Pengalaman Nyata

Yogyakarta, 19 September 2025 – Pagi itu, tawa riang dan aroma bumbu lezat menyambut para siswa TB-KB-TKIT Salman Al Farisi 1 di Ayam Geprek Sa’i, Janturan. Bukan untuk makan siang biasa, kunjungan edukatif kali ini adalah sebuah “kelas” yang berbeda, di mana anak-anak diajak langsung ke dapur untuk belajar cara membuat Burger Ayam yang lezat dan halal. Agenda ini dirancang untuk menjembatani ilmu yang didapat di kelas dengan pengalaman langsung di dunia nyata. Tujuan utamanya adalah memperluas wawasan anak-anak, meningkatkan motivasi belajar, dan melatih keterampilan sosial serta keberanian mereka. Kegiatan dimulai dengan pembukaan dan doa bersama, menanamkan rasa syukur sebelum memulai aktivitas. Setelah itu, Kak Didit Cahyono dari Ayam Geprek Sa’i mengambil alih panggung. Dengan sabar dan ramah, beliau menjelaskan proses pembuatan burger ayam, dari bahan-bahan yang digunakan hingga langkah-langkah meraciknya. Anak-anak mendengarkan dengan penuh perhatian, seolah menyerap setiap ilmu yang disampaikan. Momen yang paling dinanti pun tiba: Fun Cooking. Di meja yang telah disiapkan, setiap anak mendapatkan kesempatan untuk menyusun condiment burger mereka sendiri. Tangan-tangan mungil itu dengan lincah mengambil selada, tomat, dan saus, merangkainya di antara roti dan daging ayam. Suasana kelas yang kini berubah menjadi dapur mini dipenuhi oleh antusiasme dan kreativitas. Setelah kreasi burger mereka selesai, saatnya menikmati hasil kerja keras. Bersama-sama, mereka menyantap burger buatan sendiri, sambil ditemani snack yang telah disediakan. Setiap gigitan terasa lebih nikmat karena dibuat dengan tangan sendiri. Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama. Alhamdulillah, anak-anak pulang dengan hati gembira dan pengetahuan baru. Mereka tidak hanya belajar cara membuat burger, tetapi juga memahami pentingnya makanan halal, melatih keterampilan motorik, dan meningkatkan keberanian untuk mencoba hal baru. Kunjungan edukatif ini sekali lagi membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya berpusat di ruang kelas. Melalui pengalaman yang menyenangkan dan bermakna seperti ini, SDIT Salman Al Farisi berkomitmen untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan cinta literasi, serta membentuk karakter anak yang cerdas, berani, dan berakhlak mulia.

Petualangan di Dapur Burger: Siswa Salman Al Farisi Belajar tentang Makanan Halal dari Pengalaman Nyata Read More »

Belajar Geometri dan Pencernaan Makanan dengan Asyik: Parent Teaching Kelas B Labu

Yogyakarta – Ruang kelas B Labu di TB-KB-TKIT Salman Al Farisi kembali menjadi “panggung” bagi sebuah program unik dan menginspirasi: Parent Teaching. Pada dua sesi berbeda, para siswa/i Kelas B Labu mendapatkan pengalaman belajar yang luar biasa, di mana ilmu pengetahuan disampaikan langsung oleh para orang tua. Program ini dirancang untuk menjembatani dunia sekolah dan pengalaman hidup nyata, sekaligus mempererat ikatan antara orang tua dan anak. Belajar Geometri Lewat Petualangan Luar Angkasa Sesi pertama, yang berlangsung pada 25 Agustus 2025, dipandu oleh Bu Lilik. Beliau menyampaikan topik yang membuat imajinasi anak-anak melambung tinggi: Geometri. Namun, alih-alih menggunakan rumus yang rumit, Bu Lilik mengajarkan konsep dasar bentuk-bentuk geometri dengan cara yang menyenangkan. Dibuka dengan salam yang hangat, anak-anak diajak untuk mengenal berbagai bentuk seperti segitiga, lingkaran, dan persegi. Puncaknya, mereka menggunakan bentuk-bentuk dasar itu untuk merakit roket. Tawa dan semangat memenuhi kelas saat setiap tangan kecil sibuk menempelkan, menggunting, dan merangkai, menciptakan “roket” impian mereka sendiri. Mengenal Tubuh dan Makanan Sehat Lewat Cerita Pada kesempatan selanjutnya, tanggal 16 September 2025, giliran Bu Tami, Ibunda Binar, yang hadir. Kali ini, topik yang dibahas tak kalah penting: sistem pencernaan. Dengan gaya bercerita yang menarik, Bu Tami mengajak anak-anak dalam sebuah perjalanan menelusuri alur makanan, mulai dari masuk mulut hingga menjadi feses. Penyampaian yang sederhana membuat anak-anak mudah memahami betapa menakjubkannya tubuh mereka. Sesi ini kemudian dilanjutkan dengan aktivitas yang interaktif. Anak-anak diajak untuk menempelkan gambar makanan sehat dan makanan tidak sehat pada tempatnya. Ini adalah cara praktis untuk menanamkan pemahaman tentang pentingnya gizi dan pola makan yang baik. Kedua sesi Parent Teaching ini sekali lagi membuktikan bahwa pendidikan holistik di Salman Al Farisi adalah hasil dari kolaborasi tulus antara sekolah dan orang tua. Anak-anak tidak hanya mendapatkan ilmu dari buku, tetapi juga dari pengalaman hidup yang berharga, yang disampaikan dengan cinta langsung dari orang-orang terdekat mereka.

Belajar Geometri dan Pencernaan Makanan dengan Asyik: Parent Teaching Kelas B Labu Read More »

Parent Teaching: Saat Buah-buahan Berubah Jadi Kreasi Lezat di Kelas A Delima

Yogyakarta, 11 September 2025 – Pagi itu, tawa riang dan aroma buah segar memenuhi kelas A Delima di TB-KB-TKIT Salman Al Farisi. Melalui agenda spesial Parent Teaching, anak-anak mendapat kesempatan unik untuk belajar langsung dari salah satu orang tua, yaitu Bu Danti, bunda dari Mas Faruq. Kegiatan ini bukan hanya tentang memasak, melainkan sebuah cara menyenangkan untuk menumbuhkan cinta anak pada buah-buahan. Agenda Parent Teaching memang dirancang untuk menjembatani dunia sekolah dan pengalaman hidup nyata, dengan tujuan utama untuk menjalin kerja sama erat antara orang tua dan sekolah. Dalam sesi kali ini, Bu Danti memilih topik yang pasti disukai semua anak: membuat sate buah. Dengan penuh keceriaan, Bu Danti mengenalkan berbagai jenis buah, dari semangka yang merah dan berair, pepaya yang oranye manis, melon yang hijau segar, hingga stroberi yang merah merona. Anak-anak tampak antusias mendengarkan penjelasan Bu Danti tentang nama-nama buah dan manfaatnya bagi kesehatan. Setelah sesi pengenalan, tibalah saat yang paling dinantikan. Anak-anak dibimbing untuk mulai menusuk potongan buah-buahan favorit mereka ke tusuk sate. Mereka dengan hati-hati memilih buah kesukaan, merangkainya menjadi sebuah kreasi sate buah yang warna-warni. Suasana kelas dipenuhi tawa dan bisik-bisik gembira, saat mereka bekerja sama membuat “karya seni” yang lezat. Tak butuh waktu lama, kreasi sate buah pun selesai. Anak-anak langsung menikmati hasil karya mereka sendiri dengan lahap. Momen ini bukan hanya melatih motorik halus dan kreativitas, tetapi juga secara tidak langsung mengajarkan anak untuk senang mengonsumsi buah-buahan. Kegiatan Parent Teaching ini sekali lagi membuktikan bahwa pendidikan bisa disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan berkesan. Berkat kolaborasi tulus antara orang tua dan sekolah, anak-anak tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari pengalaman hidup yang berharga.

Parent Teaching: Saat Buah-buahan Berubah Jadi Kreasi Lezat di Kelas A Delima Read More »

Mengenal Pemotongan Hewan Sesuai Syariat: Parent Teaching Bersama Pak Wahyu

Yogyakarta, 16 September 2025 – Ruang kelas B Kurma di TB-KB-TKIT Salman Al Farisi 1 tampak berbeda dari biasanya. Pada Selasa, 16 September 2025, suasana riang bercampur dengan rasa ingin tahu saat para siswa mengikuti agenda spesial Parent Teaching. Agenda ini bukan sekadar kegiatan belajar-mengajar biasa, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan dunia sekolah dengan realitas kehidupan, diisi langsung oleh wali murid. Parent Teaching memiliki tujuan mulia: memperkenalkan berbagai profesi, menanamkan wawasan wirausaha, dan yang terpenting, mempererat ikatan antara orang tua dan anak. Dalam edisi kali ini, giliran Pak Wahyu, ayah dari Ananda Andra, yang hadir sebagai pemateri. Beliau berbagi ilmu tentang cara pemotongan hewan yang halal sesuai syariat. Belajar Halal dari Pengalaman Nyata Pak Wahyu menceritakan pengalamannya saat memotong hewab. Anak-anak yang biasanya hanya melihat daging di pasar, kini mendapatkan wawasan langsung dari ahlinya. Pak Wahyu menjelaskan bagaimana proses pemotongan hewan yang layak, menekankan pentingnya adab dan tata cara Islami. “Tidak boleh asal memotong,” jelas Pak Wahyu. “Kita harus membaca Bismillah terlebih dahulu, sebagai bentuk pengakuan bahwa semua rezeki ini datang dari Allah SWT.” Kata-kata beliau bukan hanya sekadar teori, tetapi pelajaran berharga tentang integritas, tanggung jawab, dan keimanan dalam setiap profesi. Setelah sesi materi yang edukatif, anak-anak diajak berkreasi. Mereka mewarnai pola kepala sapi, lalu menghiasnya dengan tali pita warna-warni, menjadikannya ikat kepala yang lucu dan menggemaskan. Momen ini menjadi puncak keceriaan, di mana anak-anak bisa menyalurkan kreativitas sambil mengingat kembali pelajaran yang mereka terima. Acara Parent Teaching ini berhasil menjadi wadah yang sempurna untuk menyatukan visi sekolah dan orang tua. Dengan kolaborasi erat ini, SDIT Salman Al Farisi yakin dapat mencetak generasi yang tidak hanya cerdas dan kreatif, tetapi juga memahami bahwa setiap profesi adalah jalan untuk beribadah dan menebar kebaikan.

Mengenal Pemotongan Hewan Sesuai Syariat: Parent Teaching Bersama Pak Wahyu Read More »

Membangun Pondasi Akhlak: Sekolah Orang Tua Salman Ajak Wali Murid Satukan Visi Pendidikan

Yogyakarta, 15 September 2025 – SDIT Salman Al Farisi kembali menggelar agenda inspiratif yang menjadi jembatan antara sekolah dan keluarga, yaitu Sekolah Orang Tua Salman (SOS). Pada hari Minggu, 15 September 2025, seluruh wali murid kelas 1 hingga 6 berkumpul di SDIT Salman Al Farisi. Acara ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan momen penting untuk menyatukan frekuensi, agar sekolah dan orang tua bisa berjalan seiring dalam mengawal proses belajar dan tumbuh kembang anak, baik di sekolah maupun di rumah. Pentingnya Sinergi di Era Digital Acara dimulai dengan pembukaan yang khidmat, diawali lantunan tilawah yang meneduhkan hati. Setelah sambutan dari Kepala Sekolah dan pengumuman-pengumuman penting, giliran Komite Sekolah menyampaikan pesan penguatan sinergi. Momen ini menegaskan bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab kolektif yang membutuhkan kolaborasi erat dari semua pihak. Puncak acara ini adalah sesi materi yang disampaikan oleh Ustadz Syafii Syukri, seorang praktisi pendidikan Islam. Beliau membawakan materi yang sangat relevan dan dinantikan, yaitu “Mendidik Anak di Fase Akil Baligh”. Ustadz Syafii menjelaskan dengan lugas bahwa fase akil baligh adalah masa krusial yang menantang, di mana peran orang tua harus berubah dari sekadar pengajar menjadi sahabat dan pembimbing. Beliau menekankan pentingnya komunikasi terbuka, membangun kepercayaan, dan menanamkan nilai-nilai keislaman sebagai benteng dari berbagai pengaruh negatif di era modern. Sesi materi diakhiri dengan tanya jawab yang interaktif. Harapan dan Komitmen Bersama Acara ditutup dengan pengumuman doorprize yang menambah keceriaan dan pengumuman penting dari pihak Yayasan. Setiap wali murid pulang dengan membawa bekal ilmu, semangat baru, dan komitmen untuk menjadi mitra sejati bagi sekolah. Sekolah Orang Tua Salman ini sekali lagi membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya berpusat di ruang kelas. Ia adalah sebuah ekosistem yang dibangun atas fondasi kolaborasi, kepercayaan, dan visi yang sama antara sekolah dan wali murid, demi masa depan anak-anak yang cerdas, berakhlak, dan tangguh.

Membangun Pondasi Akhlak: Sekolah Orang Tua Salman Ajak Wali Murid Satukan Visi Pendidikan Read More »

Belajar dengan Hati: KB-TKIT Salman Al Farisi 2 Selenggarakan Manasik Haji Penuh Makna

Sleman, 11 September 2025 – Pemandangan berbeda menyambut hari Kamis, 11 September 2025, di Masjid Al Iman, Klebengan. Seluruh siswa KB-TKIT Salman Al Farisi 2 tampak berseri-seri dalam balutan kostum putih-putih, siap mengikuti sebuah simulasi perjalanan spiritual yang tak terlupakan. Mereka tidak sekadar bermain peran, melainkan menjalani Manasik Haji Cilik, sebuah agenda tahunan yang dirancang untuk menanamkan rukun Islam kelima dengan cara yang menyenangkan sejak usia dini. Manasik haji ini adalah salah satu agenda khas sekolah yang bertujuan mulia. Melalui simulasi ini, anak-anak diajarkan untuk memahami urutan ibadah sekaligus menanamkan nilai-nilai luhur seperti kesabaran, kedisiplinan, dan kebersamaan. Lebih dari itu, kegiatan ini adalah cara untuk mengenalkan esensi ibadah haji, sehingga kelak, impian untuk benar-benar menginjakkan kaki di Baitullah akan tumbuh subur di dalam hati mereka. Menggali Makna Ibadah dalam Sebuah Petualangan Perjalanan manasik dimulai dengan penuh semangat. Dengan wajah polos yang antusias, anak-anak memakai pakaian putih-putih sebagai penanda pakaian ihram. Mereka kemudian mengumandangkan talbiyah yang menggema, menciptakan suasana yang khidmat dan menenangkan. Setiap rukun ibadah haji disimulasikan sebagai sebuah petualangan yang sarat makna. Anak-anak diajak merasakan simulasi wukuf di Arafah, yang mengajarkan tentang pentingnya berdoa dan merenung. Kemudian, mereka melanjutkan dengan simulasi mabit (bermalam) di Muzdalifah dan Mina, yang melatih fisik dan mental. Salah satu momen yang paling dinantikan adalah melempar jumrah, di mana mereka dengan gembira melempar batu kecil, seolah sedang melempar segala sifat buruk dan godaan dari diri mereka. Tentu saja, inti dari perjalanan ini adalah tawaf dan sa’i. Anak-anak mengelilingi replika Ka’bah, lalu berlari-lari kecil di antara replika bukit Safa dan Marwah. Gerakan-gerakan ini bukan hanya meniru ritual, tetapi juga menanamkan kebanggaan dan cinta pada ibadah. Rangkaian ibadah ini diakhiri dengan tahalul dan merasakan segarnya minum air zam-zam, sebuah ritual yang melambangkan penyucian diri. Acara ini berhasil menorehkan kesan mendalam. Anak-anak pulang dengan pengetahuan baru, pengalaman berharga, dan hati yang lebih dekat dengan Al-Qur’an. Melalui manasik haji, KB-TKIT Salman Al Farisi 2 membuktikan bahwa mendidik anak tentang agama bisa dilakukan dengan cara yang gembira dan penuh cinta.

Belajar dengan Hati: KB-TKIT Salman Al Farisi 2 Selenggarakan Manasik Haji Penuh Makna Read More »

Petualangan Haji Cilik: Siswa TB-KB-TKIT Salman Al Farisi 1 Kenalkan Rukun Islam Kelima dengan Penuh Kegembiraan

Yogyakarta, 9 September 2025 – Pagi itu, Masjid Uzlifatul Jannah di Warungboto, Yogyakarta, dipenuhi oleh pemandangan yang menghangatkan hati. Puluhan siswa TB-KB-TKIT Salman Al Farisi 1 berbaris rapi dalam balutan kain ihram putih, siap memulai sebuah simulasi perjalanan spiritual yang luar biasa. Mereka tidak sedang menuju Tanah Suci Mekkah, melainkan mengikuti Manasik Haji Cilik, sebuah simulasi ibadah yang dirancang khusus untuk memperkenalkan rukun Islam kelima dengan cara yang paling sederhana dan menyenangkan. Manasik haji ini bukan hanya sekadar acara tahunan. Ia adalah momen krusial untuk menanamkan nilai-nilai agama dan moral sejak dini. Melalui setiap langkah simulasi, anak-anak diajarkan untuk memahami esensi ibadah haji, membangun karakter yang disiplin, sabar, dan saling mengasihi, serta menumbuhkan mimpi suci untuk suatu hari nanti benar-benar bisa mengunjungi Baitullah. Perjalanan spiritual ini dimulai dengan penuh khidmat. Anak-anak dibimbing untuk memakai pakaian ihram dan bersama-sama membaca niat serta talbiyah, mengumandangkan kalimat suci yang menggema di seluruh area masjid. Mereka kemudian memulai simulasi wukuf di Arafah, sebuah momen perenungan yang mengajarkan pentingnya diam dan berdoa. Setelah itu, mereka melanjutkan simulasi mabit (bermalam) di Muzdalifah dan Mina, dua rukun yang melatih kesabaran dan ketahanan diri. Suasana semakin seru ketika tiba giliran melempar jumrah, di mana anak-anak secara simbolis melempar kerikil ke box sebagai bentuk perlawanan terhadap godaan setan. Puncak dari manasik haji ini adalah simulasi tawaf (mengelilingi Ka’bah) dan sa’i (berlari kecil antara Safa dan Marwah). Dengan wajah yang ceria dan penuh semangat, mereka mengelilingi replika Ka’bah, kemudian berlari kecil, meneladani perjuangan Siti Hajar. Sebagai penutup, mereka melakukan tahalul (mencukur rambut) dan simulasi minum air zam-zam, sebuah ritual yang melambangkan penyucian diri. Acara manasik haji ini ditutup dengan senyum dan tawa riang. Setiap anak pulang dengan cerita baru, pemahaman yang lebih dalam tentang Islam, dan bekal karakter yang berharga. Melalui pengalaman ini, TB-KB-TKIT Salman Al Farisi 1 ingin menanamkan benih cinta pada ibadah di hati anak-anak, dengan harapan suatu hari nanti benih tersebut akan tumbuh menjadi pohon keimanan yang kokoh.

Petualangan Haji Cilik: Siswa TB-KB-TKIT Salman Al Farisi 1 Kenalkan Rukun Islam Kelima dengan Penuh Kegembiraan Read More »

Lebih dari Juara: Kisah Rino, Sang Atlet Hapkido dari SDIT Salman Al Farisi, Mengukir Prestasi dengan Karakter Juara

Sejak pertama kali menginjakkan kaki sebagai siswa SDIT Salman Al Farisi 1 pada tahun 2020, di tengah awal pandemi Covid-19, perjalanan Mas Rino memang sudah terasa istimewa. Saat itu, pembelajaran daring menjadi satu-satunya pilihan. Namun, bagi orang tua Ananda Rino Rahman Pratama, kondisi tersebut justru memicu ide untuk mencari kegiatan fisik yang bisa mengisi waktu luang Rino. Pilihan sang orang tua jatuh pada beladiri Hapkido, dan siapa sangka, keputusan sederhana itu menjadi gerbang menuju segudang prestasi luar biasa. Hingga hari ini, Hapkido telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian Rino. Rutinitasnya padat: sore hari setelah pulang sekolah, ia berlatih di Dojang dua kali seminggu, ditambah lagi latihan intensif di akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Dedikasi inilah yang perlahan mengasah bakat dan mentalnya. Perjalanannya dimulai pada tahun 2023, ketika Rino duduk di bangku kelas 4 SD. Untuk pertama kalinya, ia berpartisipasi dalam Kejuaraan Hapkido tingkat Kabupaten Sleman (Kejurkab Hapkido Sleman 2023). Tak disangka, di kategori kelas tarung/Daeryun Cadet U30, Rino berhasil meraih medali emas dan terpilih sebagai Pemain Terbaik Putra. Sebuah awal yang memukau! Momentum itu terus berlanjut. Awal tahun 2024, Rino kembali berkompetisi di Kejuaraan Daerah (KEJURDA Hapkido DIY 2024), ajang bergengsi yang mempertemukan atlet-atlet terbaik dari seluruh kabupaten dan kota se-DIY. Dengan semangat membara, ia kembali pulang dengan medali emas di kategori kelas tarung/Daeryun Cadet U30. Prestasi demi prestasi terus terukir. Beberapa bulan berselang, di Kejurkab Sleman 2024, Rino menambah koleksi medalinya dengan emas di kategori kelas tarung/Daeryun Cadet U33 dan perak di kelas seni/Hyung, serta kembali dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Putra. Tahun 2025 menjadi puncak perjalanan prestasi Rino. Di Kejurda Hapkido DIY 2025, ia berhasil meraih dua medali emas sekaligus untuk kategori kelas tarung/Daeryun Cadet U33 dan kategori kelas seni/Hyung, sekaligus kembali terpilih sebagai Pemain Terbaik Putra. Namun, tantangan sesungguhnya datang saat ia berkompetisi di ajang internasional, South East Asian Hapkido Union (SEAHU 2025) Championship. Kejuaraan ini diikuti oleh atlet-atlet dari 10 negara se-Asia Tenggara. Bermodalkan mental baja dan pengalaman segudang, Rino berhasil meraih medali perak untuk Kategori kelas tarung/Daeryun Cadet U33. Ia mampu mengalahkan perwakilan atlet dari Indonesia (Papua Barat) di pertandingan pertama dan atlet dari Thailand di pertandingan kedua. Meskipun di pertandingan final ia harus mengakui keunggulan atlet dari Kamboja, medali perak di kancah internasional adalah capaian yang sungguh membanggakan bagi orang tua dan tentu saja bagi SDIT Salman Al Farisi. Ibu Novi Rahmayanti, Ibu Rino, percaya, keberhasilan Rino tidak lepas dari peran besar sekolah. SDIT Salman Al Farisi 1 bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga berperan aktif membentuk karakter anak yang islami. Slogan sekolah JUSMANTUN (Jujur, Cerdas, Mandiri, Santun) benar-benar terinternalisasi dalam diri Rino, baik di sekolah, di rumah, bahkan saat berada di arena pertandingan. Guru-guru senantiasa memberikan doa dan semangat sebelum Rino bertanding, bahkan beberapa di antaranya pernah datang langsung menyaksikan pertandingannya, memberikan dukungan moral yang luar biasa. Selain itu, Ibu Novi mengapresiasi bagaimana guru-guru di sekolah sangat aktif dan komunikatif dalam membantu Rino memahami pelajaran. Para guru memberikan perhatian penuh dan kesabaran yang luar biasa. Sela-sela jadwal latihan beladiri dan sekolah yang padat digunakan Rino untuk membaca materi dan mengerjakan soal di rumah. Apabila ada kesulitan, guru-guru selalu bersedia menjelaskan dengan sabar dan senang hati. Orang tua Rino pun merasa diberikan ruang dan waktu yang lapang untuk berdiskusi mengenai perkembangan studi Rino, memastikan ia tidak tertinggal materi pelajaran. Kisah Rino adalah bukti nyata sinergi antara potensi anak, dukungan keluarga, dan lingkungan pendidikan yang peduli. SDIT Salman Al Farisi telah menjadi rumah kedua bagi Rino, tempat ia tidak hanya tumbuh cerdas, tetapi juga menjadi pribadi yang jujur, mandiri, dan santun, siap menghadapi tantangan global.  

Lebih dari Juara: Kisah Rino, Sang Atlet Hapkido dari SDIT Salman Al Farisi, Mengukir Prestasi dengan Karakter Juara Read More »

Mewarisi Ilmu Bermakna: Guru TB-KB-TKIT Salman Al Farisi Ikuti Pelatihan Kurikulum Alif

Yogyakarta, 31 Agustus 2025 – Suasana khidmat dan penuh rasa syukur menyelimuti Aula KB-TKIT Salman Al Farisi 2. Seluruh guru TB-KB-TKIT Salman Al Farisi Yogyakarta berkumpul untuk sebuah agenda istimewa: Pelatihan dan Workshop Kurikulum Alif. Acara yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB ini dirancang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya dengan membekali para pendidik dengan kekhasan metode pengajaran yang hanya ada di Salman Al Farisi Jogja. Dari Jejak Sejarah hingga Teladan Rasulullah Acara dibuka dengan sambutan penuh makna dari Ibu Latifah Dwi Wahyuni, S.Sos, Manajer BRIS. Beliau mengajak seluruh guru untuk merenung dan bersyukur. “Kita sebagai pendidik di Salman patut bersyukur masih bisa bertemu dengan pendahulu Salman yang bisa mewariskan dan mengajarkan ilmu kekhasan, yaitu pembelajaran Kurikulum Alif,” ujar Ibu Latifah. Beliau kemudian mengaitkannya dengan kisah Rasulullah yang dirawat oleh Halimatus Sa’diyah. “Di sana Rasulullah dapat tumbuh dengan pribadi yang memiliki Bahasa Arab yang bagus dan akhlak yang baik.” Pesan ini menanamkan kesadaran bahwa mereka adalah pewaris ilmu yang luar biasa, dengan tanggung jawab untuk membentuk karakter anak sejak usia dini. Sesi inti kemudian dilanjutkan oleh Ibu Muzna Nurhayati, S.Pd. Beliau membawa para peserta dalam sebuah perjalanan ke masa lalu, mengupas tuntas sejarah di balik lahirnya Kurikulum Alif. “Semua berawal dari mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri,” ungkapnya. Mereka menyadari pentingnya pondasi keimanan yang kuat di tengah “polusi akidah” di luar sana. Mereka lantas mendirikan komunitas bernama KIBAR (Keluarga Islam di Britania Raya). Komunitas ini tidak hanya untuk meningkatkan wawasan Islam, tetapi juga menjaga silaturahmi. Dari kegiatan mengaji bersama itulah, lahirlah ide untuk membukukan materi tersebut menjadi Paket Alif, yang kemudian dibawa ke Indonesia agar manfaatnya semakin luas. Ibu Muzna menekankan, materi ini sangat indah dan mampu mengubah perilaku anak dengan cara yang menyenangkan. Mengajar dengan Hati: Dari Metodologi hingga Praktik Langsung Setelah memahami sejarah, para guru diajak langsung ke dalam ranah praktis. Ibu Siti Maryam Nur Handayani, S.Pd. (Bu Yani), membawakan sesi metodologi pengajaran Paket Alif. Lewat gaya yang ceria, beliau mencontohkan cara mengajar yang menyenangkan dan membahagiakan untuk anak-anak. Bu Yani juga menekankan pentingnya bagi para pendidik untuk membaca dan memahami buku panduan mengajar secara menyeluruh. “Mau tidak mau, pendidik juga harus belajar materi tersebut dengan sungguh-sungguh,” ujar beliau, menegaskan bahwa persiapan yang matang adalah kunci keberhasilan. Sebagai penutup, tiga guru perwakilan maju untuk praktik mengajar. Ada Ibu Etik dari TB-KB-TKIT SAF 1, Ibu Purwanti dari KB SAF 3, dan Ibu Nur dari KB-TKIT SAF 2. Momen praktik ini menjadi ajang bagi para guru untuk menerapkan ilmu yang baru mereka dapatkan, sambil mendapatkan masukan berharga. Acara ditutup dengan doa bersama dan sesi foto, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Pelatihan ini tidak hanya membekali para guru dengan ilmu baru, tetapi juga menguatkan tekad mereka untuk menjadi pendidik yang berdedikasi. Melalui penguasaan materi dan metodologi Paket Alif, mereka siap melahirkan generasi emas yang kokoh akidahnya, cerdas ilmunya, dan mulia akhlaknya.

Mewarisi Ilmu Bermakna: Guru TB-KB-TKIT Salman Al Farisi Ikuti Pelatihan Kurikulum Alif Read More »