Website SAF jogja

Admin Situs

Dari Tanah Liat hingga Angkasa Raya: Kisah Kelas 1 SDIT SAF 2 Merajut Kreativitas dan Sejarah Bangsa

Yogyakarta, 23 Oktober 2025 – Satu hari, dua tujuan yang berbeda bidanf, namun satu visi: menanamkan pengalaman belajar yang tak terlupakan. Seluruh siswa/i Kelas 1 SDIT Salman Al Farisi 2 menjalani Kunjungan Edukasi yang intensif, belajar salah satu kekayaan budaya di Gerabah Kasongan dan kejayaan sejarah di Museum Dirgantara Yogyakarta. Agenda ini dirancang khusus untuk mengaitkan pembelajaran di kelas dengan dunia nyata. Tujuannya adalah memperluas wawasan, melatih keterampilan sosial dan interaksi, serta menumbuhkan rasa ingin tahu dan cinta literasi melalui pengalaman langsung yang menyenangkan. Sentuhan Kreativitas di Kasongan: Melatih Motorik Halus dan Kasar Petualangan dimulai di sentra kerajinan Gerabah Kasongan. Di tengah deretan karya seni tanah liat yang memukau, anak-anak tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi seniman cilik. Mereka diajak untuk membuat gerabah dari tanah liat menggunakan cetakan khusus. Momen ini adalah latihan motorik terbaik: tangan-tangan mungil itu harus telaten membentuk gumpalan tanah liat, memukul-mukulnya agar pas dengan cetakan, dan membentuknya menjadi karya. Tanah liat yang dingin dan lembut menjadi media bagi mereka untuk mengekspresikan kreativitas, mengajarkan kesabaran, dan mengubah bahan sederhana menjadi sesuatu yang bernilai. Membumbung Tinggi di Museum Dirgantara: Merenungkan Sejarah dan Pengabdian Setelah selesai berkarya dengan tanah, perjalanan berlanjut menuju langit dan sejarah di Museum Dirgantara Yogyakarta. Suasana seketika berubah, dari sentra seni tradisional menjadi pusat kejayaan militer dan kedirgantaraan Indonesia. Di sini, anak-anak disuguhkan koleksi bersejarah TNI Angkatan Udara yang mengagumkan. Mereka melihat langsung berbagai jenis pesawat tempur, rudal, senjata udara, dan replika diorama peristiwa bersejarah. Perhatian mereka juga tertuju pada benda-benda ikonik seperti pakaian dinas mantan Kepala Staf Angkatan Udara dan tandu yang pernah digunakan Jenderal Sudirman. Kunjungan ini memberikan pengalaman langsung tentang fakta-fakta sejarah, menumbuhkan rasa bangga terhadap bangsa, dan mengenalkan mereka pada profesi mulia para pahlawan udara yang mengabdi pada negeri. Kunjungan edukasi ganda ini sukses menciptakan pengalaman belajar yang holistik. Di Gerabah Kasongan, anak-anak belajar tentang kesederhanaan dan keterampilan tangan. Di Museum Dirgantara, mereka belajar tentang ketangguhan, pengabdian, dan sejarah. Siswa Kelas 1 SDIT Salman Al Farisi 2 kembali ke sekolah dengan wawasan yang luas, kemampuan motorik yang terasah, dan jiwa yang penuh inspirasi. Inilah komitmen Salman Al Farisi dalam membentuk generasi Qurani Berprestasi—yang tanggap pada seni dan budaya, sekaligus teguh pada sejarah bangsanya.

Dari Tanah Liat hingga Angkasa Raya: Kisah Kelas 1 SDIT SAF 2 Merajut Kreativitas dan Sejarah Bangsa Read More »

Dari Buku ke Dunia Nyata: Siswa KBIT Salman Al Farisi 3 Bertemu Langsung Sahabat Hewan di Jogja Exotarium

Sleman, 28 Oktober 2025 – Pagi yang cerah di Jogja Exotarium Mini Zoo menjadi saksi petualangan edukatif yang penuh sorak tawa. Seluruh siswa/i KBIT Salman Al Farisi 3 menjalani Mini Outing Class, mengubah halaman buku menjadi pengalaman nyata dan berkesan. Agenda ini dirancang untuk mencapai banyak tujuan: mengaitkan pembelajaran di kelas dengan dunia nyata, memperluas wawasan, hingga melatih keterampilan sosial dan merangsang keberanian anak melalui interaksi langsung dengan hewan-hewan yang ada di sana. Menyambut Keragaman Ciptaan Allah Begitu tiba, anak-anak langsung disambut dengan berbagai jenis binatang. Antusiasme mereka memuncak saat melihat keragaman ciptaan Allah yang selama ini hanya dijumpai dalam bentuk gambar atau video. Mereka berjumpa dengan kelinci yang lincah, kambing dan domba yang bersuara, kura-kura yang bergerak lambat, hingga satwa eksotis seperti monyet, burung hantu, iguana, kuda, musang, dan kerbau. Setiap satwa menjadi sumber ilmu baru. Anak-anak tampak sangat senang akhirnya bisa melihat langsung tekstur bulu dan kulit, gerakan unik, dan perilaku alami dari hewan-hewan tersebut. Eksplorasi dan Keberanian Interaksi Langsung Momen paling berharga adalah ketika anak-anak diberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan hewan-hewan jinak. Mereka dengan hati-hati mencoba memegang kelinci yang lembut dan memberikan makan kepada kambing. Interaksi langsung ini adalah latihan terbaik untuk keterampilan sosial mereka. Keberanian mereka diuji, rasa ingin tahu mereka dipuaskan, dan mereka belajar tentang cara memperlakukan makhluk hidup dengan kasih sayang. Melihat hewan yang tadinya hanya fantasi di buku kini ada di hadapan mereka, semakin menumbuhkan cinta literasi dan semangat belajar yang lebih tinggi. Mini Outing Class ini sekali lagi membuktikan bahwa KBIT Salman Al Farisi 3 berkomitmen pada pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna, menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap lingkungan dan kehidupan sosial.

Dari Buku ke Dunia Nyata: Siswa KBIT Salman Al Farisi 3 Bertemu Langsung Sahabat Hewan di Jogja Exotarium Read More »

Melihat Gorong-Gorong, Merajut Mimpi: Siswa KB-TKIT Salman Al Farisi Belajar Profesi Mulia di Jalan Soepomo

Yogyakarta, 19 Oktober 2025 – Pagi itu, Jalan Prof. Dr. Soepomo SH di sekitar Warungboto bukan hanya menjadi sekadar jalur harian menuju sekolah. Bagi murid kelompok A Delima dan A Zaitun KB-TKIT Salman Al Farisi, jalanan tersebut adalah ruang kelas terbuka yang penuh inspirasi. Hal ini nampak pada agenda “Belajar dari Lingkungan Sekitar,” anak-anak diajak untuk mengenal lebih dekat berbagai profesi mulia yang bermanfaat bagi banyak orang. Tujuan utama kegiatan ini adalah menanamkan pada anak-anak bahwa setiap pekerjaan yang mereka lihat di sekitar lingkungan sekolah adalah pekerjaan yang terhormat dan penting untuk kemaslahatan masyarakat. Mengamati Keseharian, Bertemu Cita-Cita Mulia Rangkaian acara diawali dengan berjalan-jalan santai di sekitar Warungboto. Anak-anak mengamati keseharian masyarakat, melihat berbagai aktivitas dan pekerjaan yang mereka jalani. Namun, perhatian mereka tertuju pada satu titik: proses pembangunan drainase di Jalan Prof. Dr. Soepomo SH yang sedang dikerjakan. Tempat pembangunan gorong-gorong tersebut menjadi “laboratorium” bagi mereka. Di sana, mereka berkesempatan emas bertemu langsung dengan para Arsitek yang sedang memantau pengerjaan saluran air hujan tersebut. Pertemuan dengan profesi ini menjadi pengantar tentang “cita-citaku yang mulia,” membuka wawasan anak tentang macam-macam pekerjaan yang bisa mereka geluti kelak. Antusiasme Kecil di Lokasi Proyek Suasana menjadi sangat interaktif. Anak-anak menunjukkan antusiasme yang luar biasa, tidak canggung untuk mendekat dan bertanya kepada Bapak Arsitek. Dengan bahasa polos dan rasa ingin tahu yang besar, mereka bertanya dan bercerita tentang alat dan bahan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat saluran air hujan. Para arsitek dengan sabar menjawab setiap pertanyaan, menjelaskan fungsi semen, pasir, hingga pipa gorong-gorong. Interaksi ini memberikan pembelajaran mendalam tentang ketekunan, tanggung jawab, dan peran sebuah profesi dalam menjaga lingkungan (seperti mencegah banjir). Kunjungan ini menegaskan kembali filosofi pendidikan di Salman Al Farisi: bahwa ilmu tidak hanya datang dari buku, melainkan dari pengalaman langsung. Murid KB-TKIT Salman Al Farisi 2 pulang dengan wawasan baru, keberanian berinteraksi, dan keyakinan bahwa semua profesi yang bermanfaat bagi sesama adalah pekerjaan yang sangat mulia.

Melihat Gorong-Gorong, Merajut Mimpi: Siswa KB-TKIT Salman Al Farisi Belajar Profesi Mulia di Jalan Soepomo Read More »

Jejak Kecil di Dapur Sate: Siswa TKIT Salman Al Farisi Belajar Gizi Seimbang Langsung dari Sate Cak Marsit

Yogyakarta, 23 September 2025 – Aroma harum daging bakar dan bumbu kacang yang khas menyambut kedatangan rombongan cilik dari Kelas B1 Arofah TKIT Salman Al Farisi di Sate Cak Marsit Klebengan. Kunjungan edukatif kali ini bukan hanya tentang mencicipi kuliner lezat, tetapi sebuah petualangan seru yang menghubungkan pembelajaran sub-topik Makanan Bergizi Seimbang di kelas dengan pengalaman nyata di dapur seorang pedagang ulung. Tujuan utama dari kunjungan ini adalah memberikan pengalaman langsung, merangsang keberanian, serta menumbuhkan rasa ingin tahu dan cinta literasi melalui kegiatan yang menyenangkan dan bermakna. Diskusi di Balik Asap Arang: Menakar Gizi dalam Satu Tusuk Kegiatan dimulai dengan diskusi hangat bersama Cak Marsit. Beliau dengan ramah dan sabar menjelaskan cara membuat sate serta bahan-bahan yang digunakan. Anak-anak tampak antusias mendengarkan penjelasan tentang potongan daging, bumbu marinasi, dan bumbu kacang yang menjadi pelengkap. Bu Guru kemudian menambahkan penjelasan tentang pentingnya gizi seimbang. Mereka belajar bahwa sate yang mengandung protein hewani, bumbu kacang yang kaya lemak sehat, dan berbagai pelengkap lain, merupakan contoh makanan yang insya Allah bergizi jika dikonsumsi dalam porsi yang tepat. Diskusi ini memperluas wawasan anak, menyadari bahwa makanan enak pun bisa menjadi sumber energi yang baik. Eksplorasi di Panggung Arang: Melatih Keberanian dan Motorik Momen yang paling dinanti pun tiba: sesi eksplorasi mengipas sate. Dengan pendampingan penuh dari Cak Marsit dan Bu Guru, anak-anak berkesempatan mencoba langsung mengipas sate menggunakan arang sungguhan yang bukan sekadar simulasi! Tangan-tangan mungil itu dengan semangat mengipasi bara, menciptakan angin agar api tetap menyala. Kegiatan ini secara efektif melatih kemampuan motorik halus mereka, melatih konsentrasi, sekaligus menumbuhkan keberanian untuk mencoba pengalaman baru yang menantang namun aman. Di tengah asap dan panas arang, tawa riang anak-anak menjadi musik di dapur Cak Marsit. Sate Dibawa Pulang, Kebersamaan Dimulai Acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama dengan Cak Marsit, mengabadikan momen berharga bersama sang penjual sate yang inspiratif. Setelah berpamitan dengan tertib, anak-anak tidak langsung menyantap sate di lokasi, melainkan membawanya sebagai bekal kembali ke sekolah. Kegiatan puncak pun terjadi di kelas, di mana mereka makan sate bersama. Momen kebersamaan ini menjadi penutup yang manis, karena sate yang mereka nikmati terasa lebih spesial setelah mengetahui proses pembuatannya dan memahami kandungan gizinya. Kunjungan ke Sate Cak Marsit ini sukses menjadi pengalaman belajar yang utuh: menggabungkan keterampilan sosial, pengetahuan praktis, dan kebahagiaan kuliner.

Jejak Kecil di Dapur Sate: Siswa TKIT Salman Al Farisi Belajar Gizi Seimbang Langsung dari Sate Cak Marsit Read More »

Belajar Adab dan Gizi di Dapur Bakso Pertelon: Mini Outing Class KB-TKIT Salman Al Farisi 2

Yogyakarta, 16 September 2025 – Pagi itu, trotoar di sekitar sekolah menjadi saksi petualangan edukatif yang singkat namun padat ilmu. Murid-murid cilik dari Kelas B1 Arofah dan B2 Jabbal Rahmah KB-TKIT Salman Al Farisi tidak perlu menaiki bus jauh-jauh. Cukup berjalan kaki kurang lebih 10 meter dari gerbang sekolah, mereka sudah tiba di destinasi belajar yang strategis: Warung Bakso Pertelon. Kunjungan ini adalah praktik nyata dari topik Makanan Halal dan Thoyyib yang telah dipelajari di kelas. Tujuannya adalah memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar langsung, menumbuhkan rasa ingin tahu, serta melatih adab dan keterampilan sosial anak sejak dini. Dari Salam Pembuka Hingga Rahasia Dapur Halal Kegiatan dimulai dengan doa pembuka di kelas, memohon keberkahan ilmu. Tepat pukul 09:00, dengan tertib, anak-anak berjalan menuju lokasi. Sesampainya di sana, pelajaran pertama langsung dipraktikkan: Adab Bertamu. Anak-anak mengucapkan salam terlebih dahulu dan bersalaman (salim) dengan pemilik warung bakso, mengajarkan mereka tentang sopan santun dan menghormati orang lain. Pemilik Bakso Pertelon kemudian membuka “kelas”. Beliau dengan ramah memperkenalkan alat dan bahan yang digunakan, menjelaskan proses pembuatan bakso—dari daging mentah hingga menjadi bulatan yang siap santap. Fokus utama penjelasan adalah memastikan seluruh proses, alat, dan bahan yang digunakan adalah halal dan thoyyib (baik), mengaitkan teori di kelas dengan kenyataan di lapangan. Tak hanya prosesnya, Bu Guru juga menambahkan wawasan ilmiah. Beliau menjelaskan kandungan gizi yang ada di dalam bakso, seperti protein untuk pertumbuhan, vitamin, karbohidrat, dan serat. Anak-anak tampak antusias dan takjub, menyadari bahwa di balik kelezatan bakso, ada berbagai nutrisi yang menyehatkan badan. Mangkuk Habis, Pembelajaran Tuntas Puncak kebahagiaan anak-anak adalah ketika mereka diizinkan untuk mencicipi langsung rasa baksonya. Masing-masing anak mendapatkan satu mangkuk bakso. Tidak ada yang tersisa! Alhamdulillah, ananda terlihat sangat lahap dan berhasil menghabiskan seluruh porsi, menunjukkan keberhasilan program yang menyenangkan dan bermakna. Kegiatan ditutup dengan sesi recalling di mana anak-anak menceritakan kembali hal-hal menarik yang mereka temukan di warung bakso. Mereka berfoto bersama pemilik Warung Bakso Pertelo sebagai kenang-kenangan, lalu pamit pulang dengan bekal adab bertamu, wawasan gizi, dan pengetahuan proses halal yang utuh.

Belajar Adab dan Gizi di Dapur Bakso Pertelon: Mini Outing Class KB-TKIT Salman Al Farisi 2 Read More »

Aksi Berani di Markas Api: Siswa KB-TKIT Salman Al Farisi 2 Belajar Keselamatan dan Profesi Mulia

Sleman, 16 Oktober 2025 – Pagi itu, tawa riang dan sorakan gembira mewarnai Pos Pemadam Kebakaran UGM. Seluruh siswa/i KB-TKIT Salman Al Farisi 2 tidak sedang bermain di taman, melainkan sedang menjalani “kelas” yang paling seru: belajar langsung tentang keselamatan dan profesi mulia pemadam kebakaran. Kunjungan edukatif ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dasar anak tentang bahaya dan cara penanggulangannya, sekaligus melatih keberanian dan ketenangan dalam menghadapi situasi darurat. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan mengenalkan profesi Damkar yang penuh pengabdian. Mengenal Sumber Api dan Mengenal Alat ‘Tempur’ Damkar Agenda dimulai dengan sesi interaktif yang serius tapi menyenangkan. Para petugas Damkar UGM dengan sabar menjelaskan sumber-sumber yang berpotensi menyebabkan kebakaran, seperti gas elpiji. Anak-anak dibuat kagum sekaligus waspada saat mereka diajak melihat langsung demonstrasi bagaimana gas elpiji bisa menghasilkan api. Penjelasan ini mengajarkan mereka untuk selalu berhati-hati di dekat peralatan dapur. Setelah itu, anak-anak dikenalkan dengan berbagai alat-alat ‘tempur’ yang digunakan petugas Damkar. Mereka mengamati selang raksasa, helm, hingga baju khusus tahan panas, yang semuanya menumbuhkan rasa kagum terhadap profesi heroik ini. Praktik Pemadaman dan Pesta Air Penutup Antusiasme memuncak saat anak-anak diajak untuk praktik langsung memadamkan api. Dengan pendampingan yang ketat, mereka belajar cara sederhana nan efektif: memadamkan api kecil menggunakan kain basah. Momen ini melatih kemampuan motorik dan keberanian mereka dalam situasi simulasi bahaya. Lalu, tibalah sesi yang membuat semua anak bersorak gembira. Sebagai penutup yang tak terlupakan, Pak Damkar menyemprotkan air dari selang mobil Damkar. Sontak, seluruh siswa berlarian dengan riang, basah kuyup seperti sedang hujan-hujanan, sebagai hadiah atas keberanian mereka. Sesi ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga membantu anak melepas ketegangan dan mengaitkan profesi Damkar dengan hal yang menyenangkan. Kunjungan ini berhasil memberikan pembelajaran yang mendalam dan menyenangkan melalui pengalaman langsung. Siswa KB-TKIT Salman Al Farisi 2 pulang dengan wawasan baru, keberanian yang bertambah, dan tentu saja, kenangan gembira tentang para pahlawan api.

Aksi Berani di Markas Api: Siswa KB-TKIT Salman Al Farisi 2 Belajar Keselamatan dan Profesi Mulia Read More »

Satu Visi, Satu Misi: Mabit Yayasan Salman Al Farisi Eratkan Sinergi di Kaki Merapi

Cangkringan, 11 Oktober 2025 – Kehangatan api unggun dan udara sejuk khas Teras Merapi menjadi saksi eratnya ikatan seluruh keluarga besar Yayasan Salman Al Farisi. Selama dua hari, 10 hingga 11 Oktober 2025, seluruh guru, karyawan, hingga staf kantor pusat dan unit bisnis (BUMS) berkumpul dalam agenda Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) Yayasan Salman Al Farisi 2025. Di bawah tema “Satu Visi, Satu Misi, Menggapai Ridho Ilahi,” Mabit ini diadakan bertujuan untuk menguatkan kembali sinergi antar seluruh elemen lembaga, melakukan recharge ruhiyah, dan memantapkan semangat pegawai untuk memberikan pelayanan optimal di unit masing-masing. Malam Penuh Tawa dan Inspirasi di Api Unggun Agenda Mabit berlangsung hangat, seru, dan penuh keakraban. Setelah seluruh peserta tiba di sore hari dan menikmati makan malam bersama di pendopo, acara inti malam dimulai. Diawali dengan sambutan hangat dari Pak Suprih Hidayat, S.Sos, MPA, selaku Direktur Pendidikan Yayasan Salman Al Farisi, beliau menekankan pentingnya kerja sama tim dalam mewujudkan visi yayasan. Puncak kehangatan malam itu adalah sesi Api Unggun yang dibarengi dengan Pentas Seni dari setiap perwakilan lembaga. Sinergi antar unit terasa nyata saat mereka menampilkan keunikannya masing-masing—mulai dari tampilan nasyid dan rebana yang syahdu, drama musikal yang menghibur, pembacaan puisi yang mendalam, hingga stand up comedy yang mengundang tawa. Kemeriahan bertambah saat BUMS (Badan Usaha Milik Salman) membagikan doorprize bermanfaat untuk para peserta. Agenda malam itu diakhiri dengan agenda tukar kado bersama, meninggalkan kesan manis dan penuh persaudaraan. Kekuatan Jiwa di Sepertiga Malam Momen paling berharga dari Mabit ini adalah ketika seluruh peserta bangun pukul 3 pagi untuk melaksanakan Salat Tahajjud bersama. Suasana hening dan khusyuk menjadi ruang untuk setiap pegawai memohon kekuatan dan keberkahan atas tugas mulia yang diemban. Agenda spiritual berlanjut setelah Salat Shubuh dengan tilawah mandiri, di mana setiap peserta menuntaskan target wajib tilawah satu juz selama Mabit berlangsung. Proses recharge ruhiyah ini menjadi modal spiritual untuk kembali melayani umat dengan hati yang bersih. Kegiatan dilanjutkan dengan olahraga pagi, sesi berfoto untuk mengabadikan momen, dan sarapan bersama. Sebagai penutup, Pak Suprih Hidayat memimpin doa bersama untuk memohon kebaikan bagi seluruh karyawan dan kemajuan Yayasan Salman Al Farisi di masa yang akan datang. Mabit 2025 sukses menegaskan kembali bahwa di Salman Al Farisi, semangat profesionalisme selalu didampingi oleh ketulusan dan ketaatan kepada Ilahi, membentuk tim yang solid, bersinergi, dan siap menggapai ridho Allah dalam setiap langkahnya.

Satu Visi, Satu Misi: Mabit Yayasan Salman Al Farisi Eratkan Sinergi di Kaki Merapi Read More »

Melangkah Mandiri di Kaki Merapi: Perkemahan Kelas 6 SDIT SAF 2 Tempa Jiwa Pemimpin

Sleman, 10 Oktober 2025 – Suasana sejuk dan tantangan alam menjadi saksi perjalanan berharga bagi seluruh siswa/i kelas 6 SDIT Salman Al Farisi 2. Selama dua hari, 9 hingga 10 Oktober 2025, mereka mengikuti Perkemahan Kamis-Jumat yang intensif di Bumi Perkemahan Wukirsari, Cangkringan, Sleman. Agenda ini dirancang sebagai “pembekalan akhir” yang bertujuan untuk membangun dan memperkuat karakter Islami, kemandirian, dan keterampilan sosial mereka sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Latihan Fisik dan Kekompakan Melalui Pioneering dan Yel-Yel Perkemahan dimulai pada Kamis pagi dengan kedatangan peserta, dilanjutkan dengan kegiatan mendirikan tenda, yang langsung menguji keterampilan kerja sama tim. Setelah itu, mereka langsung disambut oleh Giat Pioneering, di mana mereka belajar teknik ikatan simpul yang merupakan dasar kepramukaan. Sore harinya, jiwa kepemimpinan dan kekompakan mereka diuji dalam Giat Prestasi Yel-Yel dan Permainan Persaudaraan. Dalam suasana penuh semangat, setiap regu berusaha menampilkan yang terbaik, melatih keberanian dan kemampuan berkomunikasi yang nantinya menjadi bekal penting di bangku SMP. Api Unggun dan Ibadah Subuh: Keseimbangan Jiwa dan Raga Malam puncak perkemahan diwarnai kehangatan Api Unggun dan tawa riang dalam Pentas Seni. Momen ini menumbuhkan rasa kebersamaan dan memberikan panggung bagi anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas mereka. Namun, yang terpenting, spiritualitas tetap menjadi pondasi. Pagi buta, seluruh peserta bangun untuk melaksanakan Ibadah Subuh berjamaah dan Olahraga. Perpaduan kegiatan fisik dan spiritual ini merefleksikan komitmen sekolah dalam membentuk karakter Islami yang utuh. Jelajah Alam dan Penutupan: Siap Melangkah ke Jenjang Berikutnya Pada hari terakhir, semangat petualangan kembali membara dalam sesi Jelajah Alam. Kegiatan ini melatih observasi, ketahanan fisik, dan kecintaan pada lingkungan. Perkemahan ditutup dengan Upacara Penutupan yang penuh makna. Setelah dua hari penuh tantangan, para siswa kelas 6 SDIT Salman Al Farisi 2 kembali dengan bekal kemandirian yang lebih matang, jiwa kepemimpinan yang lebih terasah, dan karakter Islami yang lebih kokoh.

Melangkah Mandiri di Kaki Merapi: Perkemahan Kelas 6 SDIT SAF 2 Tempa Jiwa Pemimpin Read More »

5 Contoh Integrasi Nilai Islam dalam Mata Pelajaran Umum, Agar Belajar Tak Sekadar Belajar!

Seringkali, orang tua beranggapan bahwa pendidikan agama hanya berlangsung di kelas Fiqih atau Tahfizh. Sementara itu, Matematika, IPA, dan IPS dianggap sebagai ilmu yang berdiri sendiri, terpisah dari nilai-nilai spiritual. Padahal, pendidikan holistik yang sejati adalah yang mampu menyatukan ilmu dunia dan akhirat. Berikut adalah lima contoh bagaimana cara mengintegrasikan nilai-nilai keislaman (tauhid, adab, syariat) dalam mata pelajaran umum: 1. Matematika: Belajar Konsep Bilangan Lewat Syariat Konsep bilangan, pecahan, atau pembagian seringkali terasa abstrak. Namun, materi tersebut dapat dibuat relevan dengan kehidupan Islami melalui pembagian warisan (faraidh) sederhana atau cara menghitung besaran zakat. Dengan mengaitkan matematika dengan syariat, anak-anak memahami bahwa ilmu hitung adalah alat penting untuk menegakkan keadilan dan menjalankan perintah agama, bukan hanya sebatas belajar teori dan rumus saja. 2. IPA (Biologi): Tafakur Atas Ciptaan Allah Saat mempelajari anatomi tubuh manusia, sistem pencernaan, atau siklus hidup hewan, fokus pembelajaran arahkan anak untuk melakukan tafakur (perenungan). Anak-anak mengamati kerumitan sistem tubuh manusia dan kesempurnaan alam semesta sambil merenungkan keagungan Sang Pencipta. Mereka belajar bahwa setiap detail di alam, sekecil apapun, adalah bukti kebesaran dan kekuasaan Allah. Setiap lapis anatomi mata, kulit, telinga, dan lain-lain merupakan bukti telitinya Allah dalam mengatur kehidupan. Ilmu Biologi pun berubah dari sekadar hafalan menjadi jalan untuk meningkatkan keimanan (Tauhid). 3. IPS (Sejarah): Menggali Peradaban Islam Pelajaran sejarah tidak hanya berfokus pada peradaban barat atau kerajaan lokal. Pada kelas IPS, anak-anak juga mempelajari peran besar tokoh-tokoh muslim dalam kemajuan ilmu pengetahuan dunia, mulai dari ilmuwan, astronom, hingga penjelajah. Hal ini menumbuhkan rasa bangga dan percaya diri pada identitas Islam mereka. Mereka belajar bahwa Islam adalah peradaban yang berorientasi pada ilmu (‘ilm), bukan penghambat kemajuan. 4. Bahasa Indonesia: Adab dalam Tutur Kata dan Karya Pelajaran Bahasa Indonesia dapat dimanfaatkan untuk mengasah keterampilan yang bernilai adab dan moral. Siswa dianalisis teks yang mengandung nilai-nilai Islami, lalu mereka ditantang untuk menyusun pidato atau cerita tentang adab yang baik, seperti kejujuran, kesantunan, atau adab terhadap orang tua.Mereka belajar bahwa setiap kata yang diucapkan atau ditulis harus memiliki manfaat dan tidak boleh menyakiti orang lain, sejalan dengan prinsip qaulan layyinan (perkataan yang lemah lembut). 5. Seni Budaya: Ekspresi Keindahan Ciptaan Ilahi Pada pelajaran Seni Budaya, kreativitas diarahkan untuk mengapresiasi keindahan. Siswa tidak hanya menggambar bebas, tetapi juga belajar membuat karya seni kaligrafi atau membuat karya yang bertemakan keindahan ciptaan Allah di alam semesta. Seni menjadi media bagi mereka untuk mengekspresikan kekaguman terhadap keesaan Allah, menjadikan proses berkesenian sebagai bagian dari ibadah. Pendidikan Islam Terpadu: Di Salman Al Farisi, kami berkomitmen bahwa ilmu akademik dan nilai spiritual harus berjalan beriringan. Dengan integrasi kurikulum ini, kami memastikan anak Anda tidak hanya menjadi generasi yang cerdas dan berprestasi di sekolah, tetapi juga memiliki fondasi tauhid yang kuat, siap menjadi pemimpin yang berakhlak mulia di masa depan.

5 Contoh Integrasi Nilai Islam dalam Mata Pelajaran Umum, Agar Belajar Tak Sekadar Belajar! Read More »

Bukan Hanya Wali Kelas: Mengapa Setiap Kelas Butuh Guru Pendamping?

Pendidikan Full Day School seringkali menjadi pilihan utama orang tua karena waktu belajar anak yang lebih panjang di sekolah sehingga orang tua dapat memastikan anak-anak menggunakan waktunya dengan baik dalam sehari. Namun, tahukah Anda, kunci sukses dari full day school bukan hanya terletak pada lamanya waktu, tetapi pada kualitas pendampingan yang diberikan? Di SDIT Salman Al Farisi, kami menerapkan sistem unggulan dengan menempatkan dua guru dalam setiap kelas: satu sebagai Wali Kelas dan satu sebagai Guru Pendamping. Sistem ini memastikan setiap anak mendapatkan perhatian optimal dan bimbingan karakter yang lebih intensif. Berikut adalah empat alasan mengapa kehadiran Guru Pendamping sangat krusial dalam proses belajar anak: 1. Perhatian Personal dan Pemantauan Karakter Intensif Dengan perbandingan dua orang dewasa yang mengawasi puluhan siswa, setiap anak mendapatkan perhatian personal yang jauh lebih besar. Guru Pendamping memiliki tugas utama untuk mengamati dinamika sosial, emosional, dan karakter anak sehari-hari. Sementara Wali Kelas fokus pada penyampaian materi akademik, Guru Pendamping akan fokus dalam memastikan nilai-nilai adab dan JUSMANTUN (Jujur, Cerdas, Santun, Mandiri) benar-benar terinternalisasi. Jika ada anak yang menunjukkan kesulitan belajar atau masalah perilaku, hal itu dapat terdeteksi dan tertangani lebih cepat. 2. Problem Solver Instan di Kelas Ruang kelas seringkali diwarnai berbagai tantangan, mulai dari pertanyaan di luar topik, konflik kecil antar siswa, hingga siswa yang tiba-tiba sakit. Kehadiran Guru Pendamping berfungsi sebagai Problem Solver Instan. Mereka dapat segera mengatasi masalah-masalah non-akademik di kelas tanpa mengganggu fokus Wali Kelas dalam memberikan materi utama. Proses pembelajaran pun menjadi lebih tenang, efektif, dan minim gangguan. 3. Keseimbangan Peran untuk Kualitas Pembelajaran Sistem dua guru menciptakan keseimbangan peran yang sempurna: Wali Kelas fokus pada kualitas materi akademik, strategi mengajar, dan administrasi kelas. Guru Pendamping fokus pada bimbingan kedisiplinan, karakter harian, dan soft skill anak. Keseimbangan ini memastikan bahwa aspek kognitif dan afektif anak sama-sama mendapatkan porsi perhatian yang maksimal, menjadikan pendidikan di SDIT Salman Al Farisi benar-benar holistik. 4. Memperkuat Soft Skill dan Keterampilan Sosial Guru Pendamping memiliki waktu lebih untuk mengobservasi bagaimana anak berinteraksi, berempati, dan bekerja sama. Mereka dapat memberikan intervensi langsung untuk membantu anak yang kesulitan bergaul atau melatih keterampilan memimpin. Ini sangat penting untuk anak-anak di usia sekolah dasar, di mana perkembangan keterampilan sosial adalah kunci untuk keberhasilan mereka di masa depan. Guru Pendamping berfungsi sebagai mentor yang mengamati dan membimbing perilaku sosial anak setiap waktu. – Keunggulan sistem dua guru ini telah lama menjadi komitmen di SDIT Salman Al Farisi. Baik di SDIT Salman Al Farisi 1 maupun SDIT Salman Al Farisi 2, setiap kelas telah dilengkapi dengan satu Wali Kelas dan satu Guru Pendamping. Kami percaya, berinvestasi pada kualitas pendampingan adalah investasi terbaik untuk masa depan anak Anda. Sistem dua guru ini adalah jaminan bahwa anak Anda tidak hanya akan cerdas secara akademik, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang Qurani Berprestasi dengan karakter yang kuat.

Bukan Hanya Wali Kelas: Mengapa Setiap Kelas Butuh Guru Pendamping? Read More »